Bipang Ambawang yang sedang populer saat ini sebagai kuliner yang diolah oleh masyarakat Dayak di Kecamatan Sui Ambawang Kabupaten Kubu Raya
Bipang Ambawang yang sedang populer saat ini sebagai kuliner yang diolah oleh masyarakat Dayak di Kecamatan Sui Ambawang Kabupaten Kubu Raya. Foto: ist

Pontianak, BerkatnewsTV. Kuliner khas daerah ternyata juga menjadi perhatian khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Lewat videonya yang beredar luas di jagat maya, Jokowi menyebutkan berbagai khas kuliner daerah di Indonesia, termasuk salah satunya bipang dari Sui Ambawang Kabupaten Kubu Raya.

“bapak ibu dan saudara sekalian sebentar lagi lebaran, namun karena masih suasana pandemi pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama. nah unutk bapak ibu yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh oleh tidak perlu ragu untuk memesannya secara online’

“yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, empek empek Palembang, bipang Ambawang dari Kalimantan dan lain-lainnya. tinggal pesan dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah,” kata Jokowi mempromosikan kuliner khas daerah tersebut.

Namun yang menjadi viral saat ini salah satu kuliner yang disebutkan Jokowi adalah bipang Ambawang dari Kalimantan.

Kepada BerkatnewsTV, Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kubu Raya, Paulus mengatakan bipang singkatan dari babi panggang yang sekarang sedang populer dijual di sepanjang Jalan Trans Kalimantan Desa Korek Kecamatan Sui Ambawang Kabupaten Kubu Raya.

“Memang lagi populer. Ada sekitar 4 – 5 warung yang buka bipang. Ciri khas bipang ini yakni babi panggang yang dikeringkan dan terasa seperti krispi,” ucapnya, Sabtu (8/5).

Baca Juga:

Harganya menurut Paulus bervariasi tergantung pesanan. Mulai dari ukuran porsi senilai puluhan ribu hingga per ekor senilai Rp1 juta.

“Bipang ini kuliner yang dikhususkan hanya untuk masyarakat non muslim. Bukan untuk saudara saudara kita yang muslim,” jelasnya.

Paulus menilai pernyataan Presiden Jokowi tersebut semata – mata dikarenakan kuliner tersebut yang sekarang lagi populer.

Berdirinya bipang ini dimanfaatkan pelaku usaha untuk mencari peluang ekonomi di tengah pandemi. Sebab banyak peternak babi yang mengeluh lantaran ternaknya tidak laku.

“Di tengah pandemi ini peternak babi mengeluh karena tidak laku sebab pesta atau gawai dilarang. Sehingga oleh pelaku usaha melihat peluang ini mengubahnya menjadi terobosan baru dengan mengolahnya menjadi kuliner,” terangnya.

Tentu peluang ini menurut Paulus dilihat dari nilai positifnya untuk mendatangkan pendapatan ekonomi keluarga.(rob/tmB)