loading=

Pejabat Negara Terkesima Saksikan Atraksi 727 Tatung di Cap Go Meh Singkawang

Pejabat Negara Terkesima Saksikan Atraksi 727 Tatung di Cap Go Meh Singkawang
Sejumlah pejabat negara terkesima menyaksikan atraksi 727 tatung di Festival Cap Go Meh rangkaian dari Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang berlangsung di Singkawang, Selasa (3/3/2026). Foto: tmB/berkatnewstv

Singkawang, BerkatnewsTV. Sejumlah pejabat negara terkesima menyaksikan atraksi 727 tatung di Festival Cap Go Meh rangkaian dari Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang berlangsung di Singkawang, Selasa (3/3/2026).

Adapun sejumlah pejabat negara yang hadir di Festival Cap Go Meh seperti Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok, Duta Besar Negara Seychelles untuk Indonesia.

Terlihat juga diantaranya tokoh nasional asal Kalbar Oesman Sapta, Gubernur Kalbar Ria Norsan, sejumlah Bupati/Wali Kota di Kalbar. Hingga ribuan masyarakat yang telah memadati di sepanjang Jalan Firdaus Kota Singkawang.

Panitia mencatat ada 523 tatung bertandu dan 108 tatung tanpa tandu. Selain itu, ada 75 peserta miniatur, 15 jelangkung, tiga peserta naga, dua barongsai, serta satu rombongan pejalan kaki.

“Perayaan ini bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan lunar, melainkan momentum refleksi dan peneguhan harapan. Sejarah panjang Singkawang sebagai ruang perjumpaan budaya sejak abad ke-18, di mana masyarakat Tionghoa, Melayu, dan Dayak hidup berdampingan dalam harmoni,” kata Wakil Ketua MPR RI, Bambang Wuryanto saat membuka secara resmi perayaan Cap Go Meh, Selasa (3/3/2026).

Ia juga mengapresiasi peran Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, dalam membuka ruang pengakuan bagi Hari Raya Imlek sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Narasi kebangsaan Indonesia bukanlah narasi seragam, melainkan narasi yang disusun dengan dasar keberagaman,” ujarnya.

Sementara itu Gubernur Kalbar Ria Norsan, mengajak masyarakat memaknai simbol Kuda Api yang menaungi tahun ini. Simbol kuda melambangkan kerja keras, ketangguhan, dan kecepatan dalam melangkah maju, sementara api merepresentasikan energi, keberanian, dan semangat yang menyala-nyala dalam menghadapi tantangan zaman.

“Semoga energi Kuda Api ini membawa kesehatan, keberkahan, dan kemakmuran bagi kita semua, serta menyalakan tekad untuk terus berinovasi demi kemajuan Kalimantan Barat,” ujarnya.

Baca Juga:

Keunikan perayaan tahun ini semakin terasa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Cahaya lampion Imlek bersinar berdampingan dengan semangat ibadah Ramadhan, menciptakan suasana yang menyejukkan dan penuh harmoni.

“Inilah wajah sejati Kalimantan Barat. Perbedaan tidak menciptakan jarak, melainkan menghadirkan kekuatan untuk saling menghormati dan mempererat persatuan,” tegasnya.

Norsan menegaskan bahwa harmoni sosial merupakan modal utama untuk menarik investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Pemprov Kalbar berkomitmen untuk terus memperkuat infrastruktur strategis dan konektivitas antarwilayah demi mendukung sektor pariwisata dan ekonomi,” ucapnya.

Norsan pun menyamaikan pesan persatuan untuk menjaga Kalbar tetap kondusif. “Kalbar adalah rumah besar bagi kita semua. Mari kita jaga harmoni yang telah terbangun sebagai pondasi untuk membangun daerah yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Pembukaan Festival Cap Go Meh ditandai dengan pemukulan loku yang kemudian dilanjutkan dengan parade tatung, warisan budaya yang sarat nilai spiritual dan keberanian yang diwariskan lintas generasi.

Festival Cap Go Meh Singkawang kini bukan sekadar agenda lokal, melainkan telah masuk dalam program Kharisma Event Nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Sehari sebelumnya, para tatung melakukan ritual tolak bala yang dilakukan Cho 14 dalam penaggalan kalender Imlek sebagai bentuk doa dan harapan agar masyarakat dijauhkan dari marabahaya serta diberikan keselamatan dan keberkahan.

Prosesi berlangsung khidmat dengan rangkaian ritual adat yang sarat makna, menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi, kebersamaan, dan rasa syukur. Melalui ritual ini, masyarakat bersama-sama memanjatkan doa untuk kedamaian, kesehatan, dan keharmonisan di Singkawang.(rob)