Pontianak, BerkatnewsTV. Potret pendidikan di Kalbar hingga saat ini masih terus menjadi sorotan berbagai pihak. Kendati pemerintah daerah telah menggaungkan berbagai program unggulannya namun ternyata masih ditemukan kondisi bangunan sekolah yang rusak parah.
Termasuk ratusan ribu anak Kalbar yang putus sekolah dengan berbagai faktor dan penyebab. Alih-alih bernarasi memajukan sektor Pendidikan ternyata masih terdapat kecolongan terhadap kondisi Pendidikan.
Pemprov Kalbar mencatat sebanyak 114 ribu anak Kalbar yang putus sekolah. Masalah ini menjadi tantangan paling berat yang dihadapi.
Gubernur Kalbar Ria Norsan telah menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk tidak hanya bekerja di balik meja, melainkan turun ke lapangan memastikan setiap anak usia sekolah masuk dalam sistem pendidikan.
Langkah ini diperkuat dengan skema kolaborasi lintas sektor yang komprehensif antara lain :
- Pendidikan Kesetaraan Pekerja: Menggandeng sektor swasta agar buruh dan pekerja tetap bisa mengejar ijazah sembari bekerja.
- Sekolah Unggul Garuda & Sekolah Rakyat: Implementasi program strategis nasional untuk meningkatkan standar mutu pendidikan lokal.
- Revitalisasi Taman Budaya: Menciptakan ruang ekspresi agar kreativitas generasi muda berkembang beriringan dengan kemampuan akademik.
“Saya tidak mau lagi mendengar ada anak Kalbar yang berhenti sekolah karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya pendidikan. Di tanah ini, pendidikan adalah hak masyarakat, bukan hak istimewa mereka yang mampu saja,” tegas Norsan dalam penyampaiannya berkenaan dengan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5/2026).
Baca Juga:
Norsan juga kini tengah melakukan akselerasi besar-besaran untuk merombak wajah pendidikan daerah demi menjemput impian besar Indonesia Emas 2045.
Norsan pun mengambil langkah berani sejak 2025 dengan mengucurkan subsidi SPP secara masif. Sebanyak 21.000 siswa SMA, SMK, hingga SLB swasta di 274 sekolah kini bisa bernapas lega karena beban biaya mereka ditanggung oleh pemerintah.
Selain itu Norsan meluncurkan program internet gratis di sekolah yang disebutnya jembatan digital dengan menghubungkan siswa di pelosok dengan pusat ilmu pengetahuan dunia. Dari 9 (sembilan) sekolah percontohan, program ini kini tengah bergerak cepat untuk menjangkau ratusan sekolah lainnya.
“Internet di sekolah bukan sekadar soal jaringan WiFi. Ini adalah upaya memangkas jarak. Siswa kita di Kapuas Hulu atau Ketapang harus memiliki akses informasi yang sama dengan siswa di Jakarta bahkan London. Kita buka jendela dunia lewat digitalisasi,” tambahnya.
Upaya ini tidak lain tidak bukan untuk mencapai peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalbar yan saat ini berada pada angka 72,09. Angka ini resmi membawa Kalimantan Barat masuk dalam kategori “Tinggi”, sebuah pencapaian yang tumbuh 1,26 persen dari tahun sebelumnya.
“Investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh pemerintah bukanlah pada gedung-gedung beton, melainkan pada otak manusia. Kalau kita ingin Indonesia Emas 2045 bukan sekadar jargon, maka kuncinya hanya satu pendidikan. Kita sedang membangun peradaban, bukan sekadar statistik,” tegasnya.
Namun ia optimistis bahwa dengan kerja keras dan kolaborasi semua pihak, target IPM pada rentang 73,11 hingga 75 bukanlah hal yang mustahil.
Baginya, Hari Pendidikan Nasional 2026 adalah titik tolak untuk memastikan Kalimantan Barat tidak hanya menjadi penonton dalam kemajuan bangsa, tetapi menjadi motor penggerak SDM unggul di tingkat nasional.
“Pendidikan adalah fondasi utama pembangunan yang merata dan berkelanjutan. Mari kita perkuat partisipasi semesta, karena mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas kita bersama,” pungkasnya.(tmB)













