Singkawang, BerkatnewsTV. Ujian dapat menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. Hal yang perlu disadari adalah masalah bisa saja datang dari sudut yang tidak terduga.

Salah satunya musibah sakit yang datang tiba-tiba seperti yang dialami oleh Vivi Anica Duri (35) seorang ibu rumah tangga yang juga sering disibukkan jualan properti serta baju bekas disekeliling pasar kota Singkawang.

Marli adalah salah seorang teman Vivi yang membantu mengurus pengobatan Vivi. Marli pun bersedia dan antusias menceritakan pengalaman dalam membantu Vivi yang sedang terkena musibah.

“Saya dan Vivi kenal ketika sama-sama berjualan di pasar. Apa saja kami lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dua minggu yang lalu Vivi mengalami Fraktur atau patah tulang pada bagian paha sampai pinggul karena terjatuh ketika membetulkan beberapa bagian rumahnya yang rusak. Saya mencoba membantu dengan membawanya ke rumah sakit Abdul Azis kota Singkawang dan ternyata patah tulang yang dialami nya cukup serius sehingga harus dioperasi dan waktu itu rawat inap selama dua hari,” cerita Marli.

Menurut cerita Marli, semenjak berpisah dengan sang suami, Vivi hanya mengandalkan penghasilan dari hasil jualan di pasar yang tidak menentu apalagi dimasa pandemi seperti ini.

Ditambah lagi Vivi masih harus menanggung kedua anaknya yang masih kecil dan kedua orang tuanya yang juga sudah cukup tua. Sehingga untuk pembayaran BPJS Kesehatan Vivi cukup kesulitan.

Baca Juga:

Marli melanjutkan ceritanya sampai hampir menetaskan air mata.

“Saya sangat kasihan melihat kondisi Vivi sekarang. Walaupun kami beda agama, tidak ada ikatan saudara sama sekali dan tempat tinggal lumayan jauh tapi tidak sedikitpun dalam hati saya merasa keberatan untuk membantunya mengingat kondisi nya yang memang sangat memprihatinkan dan butuh bantuan. Saya dan ada beberapa teman gotong royong untuk melakukan pembayaran BPJS Kesehatan sehingga bisa di gunakan untuk berobat,” lanjutnya.

“Minggu ini saya harus mendaftarkan jadwal operasinya yang kedua di rumah sakit. Sambil terus mengumpulkan uang untuk pembayaran BPJS Kesehatannya, saya akan mencoba ke dinas sosial untuk mendaftarkannya menjadi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) karena Vivi seorang single parent dan termasuk masyarakat yang kurang mampu,” jelas Marli.

“Inilah bukti nyata bahwa keberadaan BPJS Kesehatan memang sangat besar manfaatnya dan menjadi harapan masyarakat yang sedang membutuhkan. Saya yakin lebih dari jutaan orang yang sudah terbantu dengan adanya program ini. Kalau tidak ada program JKN-KIS mungkin orang yang tidak ada biaya seperti kami harus menjual harta benda yang ada atau meminjam uang kepada orang lain bahkan mungkin hanya bisa pasrah karena mengingat biaya pengobatan apalagi operasi pasti tidak sedikit,” ungkap Marli.

“Saya mohon kepada pemerintah jangan hapuskan program ini. Kami dan orang sekitar masih sangat membutuhkan. Terima kasih juga kepada orang-orang baik yang terus membantu kemajuan program JKN-KIS ini. Semoga program ini terus menjadi lebih baik lagi dan semua masyarakat mendaftarkan diri sebagai peserta JKN-KIS,” tutupnya.(HR/ih)