loading=

Dianggarkan Rp17 Miliar, Peninggian Jalan Galang Hingga 1,4 Meter Dengan Material Berkualitas

Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Kalbar saat ini sedang melakukan peninggian ruas jalan Sui Pinyuh - Sebadu atau yang dikenal Jalan Galang di Kabupaten Mempawah.
Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Kalbar saat ini sedang melakukan peninggian ruas jalan Sui Pinyuh - Sebadu atau yang dikenal Jalan Galang di Kabupaten Mempawah. Foto: berkatnewstv

Pontianak, BerkatnewsTV. Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Kalbar saat ini sedang melakukan peninggian ruas jalan Sui Pinyuh – Sebadu atau yang dikenal Jalan Galang di Kabupaten Mempawah.

Ruas jalan ini merupakan jalan nasional yang menjadi poros utama lintas penghubung yang sangat mendukung konektivitas perekonomian antara Kabupaten Sambas, Singkawang dan Mempawah menuju ke Kabupaten Landak hingga ke Kabupaten Kapuas Hulu.

Namun, saban tahun Jalan Galang kerap dilanda banjir yang mengakibatkan terhambatnya arus lalu lintas. Kketinggian maksimum banjir yang terjadi mencapai 40 cm dari permukaan jalan eksisting.

“Kondisi banjir yang terjadi pada ruas ini menjadi program prioritas BPJN Kalimantan Barat, sehingga BPJN Kalimantan Barat berkomitmen dalam penanganan banjir pada ruas jalan Sei Pinyuh – Sebadu ini,” kata Kepala Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Provinsi Kalbar, Koswari Abizar.

Ia sebutkan dalam hal penanganan banjir ini, bahwa tinggi timbunan pada struktur jalan raya harus berada minimal 50 cm di atas muka air banjir (Manual Desain Perkerasan Jalan No. 03/M/BM/2024 tahun 2024).

Tak tanggung-tanggung, proyek peninggian Jalan Galang ini pun dialokasikan dengan anggaran sebesar Rp17,3 miliar untuk sepanjang 575 meter bersumber dari APBN dengan ketinggian 1,4 meter.

Anggaran sebesar itu bukan kaleng-kaleng namun diimbangi dengan spek material yang berkualitas dan berbobot. Bahkan, ketahanannya bisa mencapai 20 tahun.

Sehingga penanganan banjir pada ruas jalan ini memerlukan timbunan dengan ketinggian ± 90 cm. Untuk bahan timbunan, digunakan material berbutir LFA Kelas C dengan volume sebanyak 3.274,6 m3.

“Hal ini bertujuan agar saat proses pelaksanaan pekerjaan timbunan, material dapat terpadatkan dengan waktu yang lebih cepat dan mengurangi resiko adanya kendaraan yang dapat tergelincir apabila menggunakan timbunan tanah biasa,” tambahnya.

Lalu untuk struktur fondasi menggunakan LFA Kelas A dengan tebal 20 cm (volume 1.181,6 m3) serta LFA Kelas B dengan tebal 15 cm (volume 905,6 m3). Untuk lapisan permukaan aspal menggunakan AC-WC ketebalan 4 cm (volume 398,5 ton) dan AC-BC dengan Tipikal desain yang akan diaplikasikan pada penanganan banjir Ruas Jalan Sei Pinyuh – Sebadu.

Baca Juga:

Bahan Material Berkualitas

Ketebalan 14,5 cm (volume 1.444,5 ton) serta untuk bahu jalan menggunakan beton fc’ 20 MPa ketebalan 20 cm (agar struktur bawah perkerasan dapat kedap air) dengan volume sebanyak 345,0 m3.

Pada sisi bagian kiri dan kanan timbunan jalan akan dibendung dengan struktur pasangan batu sebanyak 1.040,5 m3 dengan perkuatan fondasi cerucuk kedalaman 12 m.

“Berdasarkan rincian perkerasan pada lokasi banjir ini, dapat disebutkan bahwa total tinggi struktur jalan adalah 143,5 cm. Sehingga untuk biaya penanganan sepanjang ± 575 meter dengan ketebalan struktur sesuai uraian di atas adalah sebesar Rp17,3 miliar,” terang Koswari.

Sementara permodelan analisa konstruksi jalan dengan Software Plaxis yang menunjukan kondisi masih stabil dengan penurunan maksimum 7,619 cm. Mengingat kondisi tanah di lokasi tersebut merupakan jenis tanah lunak, maka perencana desain melakukan analisa/permodelan untuk mengetahui kestabilan dari struktur jalan yang direncanakan menggunakan Software Plaxis.

Berdasarkan hasil analisa diperoleh bahwa penurunan maksimum yang terjadi sebesar 7,619 cm dimana hasil tersebut masuk kategori aman karena batas penurunan total untuk jalan nasional maksimum adalah 10 cm (berdasarkan Manual Desain Perkerasan Jalan No. 03/M/BM/2024 tahun 2024)

“Secara keseluruhan, proyek rekonstruksi peninggian jalan ini sudah didesain secara matang untuk umur rencana struktur perkerasan 20 tahun agar akses transportasi di wilayah tersebut tidak terjadi lagi hambatan akibat banjir tahunan,” bebernya.

Untuk progres saat ini, ia menambahkan bahwa kegiatan di lapangan sudah masuk pada tahap pengaspalan. Dan ditargetkan pekerjaan akan segera terselesaikan di tahun 2026 sesuai dengan waktu kontrak.(rob)