loading=

Clurit Dilarang Digunakan di Tempat Umum dan Adu Gengsi

Clurit Dilarang Digunakan di Tempat Umum dan Adu Gengsi
Gubernur Kalbar Ria Norsan dan Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan saat menghadiri halal bihalal sekaligus Pelantikan DPW IKAMA Kalbar pada Minggu (10/5/2026). Kesempatan itu, Ketua IKAMA Kalbar, Sunandar melarang warga Madura Kalbar menggunakan clurit di tempat umum atau untuk adu gengsi karena akan dapat menimbulkan kesan negative. Foto: ist/berkatnewstv

Pontianak, BerkatnewsTV. Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) Kalbar melarang warga Madura Kalbar menggunakan clurit di tempat umum atau untuk adu gengsi karena akan dapat menimbulkan kesan negative.

“Mulai hari ini, saya minta dan saya larang kalian membawa celurit yang terselip di pinggang saat berjalan atau bersosialisasi. Kita tidak ingin menciptakan stereotip negatif seolah-olah orang Madura sedang mencari lawan,” tegas Ketua IKAMA Kalbar, Sunandar.

Penegasan itu disampaikan Sunandar saat halal bihalal sekaligus Pelantikan DPW IKAMA Kalbar pada Minggu (10/5/2026).

Sebagai gantinya, Sunandar menjelaskan clurit kini diposisikan murni sebagai senjata adat dan simbol budaya. Sebagai bentuk simbolis dari komitmen perdamaian dan bimbingan lintas etnis.

“Khususnya pemuda Madura, dilarang penggunaan clurit untuk kegiatan sehari-hari, nongkrong di warung kopi, atau sebagai alat untuk beradu gengsi,” ujarnya.

Ia pun berharap kepengurusan IKAMA dapat terus mendapatkan bimbingan dari pemerintah dan ormas lain agar warga Madura dapat terus berkontribusi positif bagi pembangunan di Kalimantan Barat.

Baca Juga:

Gubernur Kalbar Ria Norsan menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman etnis yang ada di Bumi Khatulistiwa.

Saat ini terdapat kurang lebih 24 etnis yang hidup berdampingan di Kalbar. Kehadiran berbagai paguyuban, termasuk IKAMA diharapkan dapat memperkuat struktur sosial masyarakat. Kalbar adalah “rumah besar” yang harus dijaga bersama oleh siapa pun yang tinggal di dalamnya.

“Jadi saya tekankan bahwa siapapun yang tinggal di Kalbar wajib menjaga kondusifitas agar tetap harmonis. Tidak ada suku yang merasa lebih hebat atau lebih tinggi dari yang lain, dan persatuan adalah kunci agar masyarakat tidak mudah disisipi oleh pihak-pihak yang ingin melakukan adu domba atau politik yang memecah belah,” jelasnya.

​Norsan juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan.

“Kalau ada masalah yang besar, mari kita kecilkan. Tapi kalau ada masalah yang kecil, mari kita selesaikan dengan musyawarah dan mufakat, duduk bersama,” timpalnya.​

Di tempat yang sama Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, mengingatkan bahwa orang Madura yang hidup di Kalbar adalah warga “Madura Kalimantan Barat”.

“Bukan lagi sekadar warga Pulau Madura. Dan setiap masyarakat diminta menumbuhkan rasa memiliki yang tinggi terhadap Kalbar. Dengan rasa memiliki tersebut, warga Madura diharapkan tidak lagi menjadi pemeran figuran, melainkan menjadi pemeran utama dalam memajukan daerah,” imbuhnya.(tmB)