Yohanes Kristiyanto Widi Nugroho, S.Pd

Dalam hal hubungan ilmu dengan kebudayaan. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Kebudayaan di sini merupakan seperangkat sistem nilai, tata hidup dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya.

Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling memengaruhi.

Pada suatu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya. Sedangkan di lain pihak, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan.

Ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan struktur sosial dan tradisi kebudayaan dan mereka saling mendukung satu sama lain. Dalam beberapa tipe masyarakat ilmu dapat berkembangkan secara pesat. Begitu juga sebaliknya masyarakat tidak dapat berfungsi dengan wajar tanpa didukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan penerapannya.

Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu mempunya peranan ganda. Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional.
Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.

Dalam hal hubungan teknologi dan kebudayaan. Gambarannya adalah sejak dimulainya Revolusi Industri di Eropa, teknologi yang dihasilkan kemudian disebarkan ke seluruh dunia dan mencakup hal berikut :

Watak ekonomis yang pada intinya berorientasi pada efisiensi ekonomis dengan mengutamakan kendali pada elit pendukong finansial dan elit tenaga ahli.

Ditinjau dari aspek sosial, teknologi Barat ternyata bersifat melanggengkan sifat ketergantungan. Ketergantungan ini terkait, baik dengan teknik produksi maupun pola konsumsi. Mata rantai produsen dan konsumen terputus. Artinya produsen menentukan produk lebih berorientasi pada kemajuan teknologi
Struktur kebudayaan teknologi Barat telah melahirkan struktur kebudayaan yang:

Memandang ruang geografis dengan kacamata pusat pinggiran dengan dunia Barat sebagai pusatnya.

Adapun kecenderungan untuk melihat waktu sebagai suatu hal yang berkaitan dengan kemajuan dan berkembang secara linier;
Adanya kecenderungan untuk memahami kenyataan secara terpisah dan memahami hubungan antara bagian sebagai hubungan mekanistis sehingga perubahan pada suatu bagian menuntut adanya penyesesuaian pada bagian yang lain
Kecenderungan untuk memandang manusia sebagai tuan atas alam dan hak-hak yang terbatas.

Dengan mempertimbangkan watak teknologi Barat yang demikian, sulit kiranya untuk tidak menyebut ahli teknologi Barat sebagai invasi kebudayaan Barat.

Globalisasi merupakan bukti betapa gelombang invasi terjadi dengan dahsyat. Perbincangan tentang hubungan antara teknologi dan kebudayaan dapat dilihat dari dua sudut pandang yakni dari teknologi dan kebudayaan.

Dari sudut pandang teknologi terbuka alternatif untuk memandang hubungan antara teknologi dan kebudayaan dalam paradigma positifistis atau dalam paradigma teknologi tepat. Masing-masing pilihan mengandung konsekuensi yang berbeda terhadap komponen-komponen kebudayaan yang lain.

Paradigma teknologi positifistis yang didasari oleh metafisika matearialistis jelas memiliki kekuatan dalam menguasai, menguras, dan memuaskan hasrat manusia yang tak terbatas.

Sedangkan paradigma teknologi tepat lebih menuntut kearifan manusia secara wajar. Dari sudut pandang kebudayaan bagaimanapun juga teknologi dewasa ini merupakan anak kandung kebudayaan Barat.

Hal ini berarti bahwa penerimaan ataupun penolakan secara sistematik terhadap teknologi harus dilihat dalam rangka komunikasi antar sistem kebudayaan.

Hubungan ilmu, filsafat, dan agama. Dalam hal persamaan, ketiganya bertujuan setidaknya berkaitan dengan hal yang sama yaitu kebenaran. Ilmu pengetahuan, dengan tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan metodenya sendiri, mencari kebenaran tentang alam dan manusia. Filsafat, dengan wataknya sendiri, menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena di luar atau di atas jangkauannya) ataupun tentang Tuhan.

Agama, dengan karakteristiknya sendiri, memberikan jawaban atas, segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam maupun tentang manusia ataupun tentan Tuhan.

Dalam hal perbedaan. Baik ilmu maupun filsafat, keduanya hasil dari sumber yang sama, yaitu akal atau budi manusia. Sedangkan agama bersumber pada wahyu dari Allah. Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset), pengelaman (empiris) dasn percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian.

Filsafat menghampiri kebenran dengan cara mengembarakan akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh). Manusia mencari dan menemukan kebenaran agama dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang) berbagai masalah asasi dari atau kepada Kitab Suci.

Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiri, riset, dan eksperimental).

Baik kebenaran ilmu, maupun kebenaran filsafat, kedua-duanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena agama adalah wahyu yang dturunkan oleh Tuhan.

Baik ilmu maupun filsafat, kedua-duanya dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya pada iman.

Penulis : Yohanes Kristiyanto Widi Nugroho, S.Pd.
Guru Geografi SMA Regina Pacis Surakarta