Kanit Binmas Polsek Sekadau Hilir, AIPDA Hamdun Sudarno saat menjelaskan lahan pertanian padi modern yang dibuat tanpa dibakar.
Kanit Binmas Polsek Sekadau Hilir, AIPDA Hamdun Sudarno saat menjelaskan lahan pertanian padi modern yang dibuat tanpa dibakar. Foto: ist

Sekadau, BerkatnewsTV. Karhutla masih menjadi masalah yang belum terselesaikan saat musim kemarau. Untuk itu, Kanit Binmas Polsek Sekadau Hilir, rela merogoh kocek sendiri untuk membuat lahan padi modern.

Dengan tujuan ingin mengubah cara pengolahan lahan pertanian sekaligus berupaya mengurangi dampak kabut asap akibat karhutla.

Kanit Binmas Polsek Sekadau Hilir, AIPDA Hamdun Sudarno menjelaskan, lahan pertanian padi modern ini dibuat tanpa dibakar.

Hanya proses pengolahan lahannya saja yang berbeda, tanpa mengurangi kearifan lokal masyarakat saat membuka lahan pertanian.

“Alasan saya memilih Desa Ensalang karena ketika saya berkunjung ke tempat ini pada, 13 Juni 2020, saya melihat ada tanaman yang sudah dikelola di sini serta ada lahan yang tidak dipakai,” ungkap Hamdun, Sabtu (19/9).

Terkait hal itu, Hamdun langsung bertanya kepada Kades Ensalang terkait rencana program yang dibuatnya tentang pengolahan tanah yang selanjutnya ditanami padi. Kades Ensalang pun menyetujui dan langsung menghubungi PPL untuk membahas rencana tersebut.

“Setelah kami bahas, saya bertanya apakah bisa menanam padi di lahan kering dengan menggunakan bibit unggul. Ternyata beliau (PPL) mengatakan kita coba,” kata Hamdun.

Baca Juga:

Hamdun menuturkan, alasan memilih lahan di dekat kantor Desa Ensalang karena milik desa. Apabila meminjam lahan milik warga, besar kemungkinan kedepan bila lahan tersebut sudah jadi akan diambil kembali oleh pemiliknya.

Setelah itu, Hamdun menjalankan program tersebut dan merogok kocek sendiri dengan harapan lahan percontohan itu bisa perlahan-lahan mengubah pola pertanian masyarakat saat membuka lahan.

“Saya tidak mengurangi kearifan lokal dalam program ini, yaitu kami tidak menggunakan pola tani secara semai melainkan pola tanam tugal. Jadi, kearifan lokal yang dibudidayakan di daerah sini berladang adalah bertanam padi dengan cara di tugal dan itu yang kami lakukan pada metode penanaman padi. Adat istiadat nya pun pada saat menanam padi tetap kami laksanakan seperti menanam padi di lahan-lahan yang dibakar oleh masyarakat,” bebernya.

Kemudian, Hamdun juga berharap dengan program ini ada pola perubahan pertanian masyarakat. Hal ini juga untuk membantu program pemerintah dalam mengurangi dampak karhutla.

“Apabila program ini nanti dapat berjalan, khususnya di Kabupaten Sekadau dan masyarakat dapat mencontoh apa yang kita lakukan ini. Maka besar kemungkinan dampak dari pembakaran lahan itu mungkin bisa berubah, seperti yang kita lakukan sekarang, ujarnya.

Saat ditanya waktu panen, Hamdun memperkirakan padi yang ditanam di lahan tersebut akan dipanen sekitar Oktober mendatang. Jika program ini nantinya berhasil, maka akan dibuatkan modul yang akan disosialisasikan kepada masyarakat luas.

“Kemudian kami, terutama dari Unit Binmas Polsek Sekadau Hilir akan mengampanyekan ubah pola bertanam. Jangan menggunakan metode membakar lahan, sehingga tidak ada lagi asap di Kabupaten Sekadau. Kalau sekarang kami belum berani mensosialisasikannya karena hasilnya belum ada. Jika sudah ada akan kami sosialisasikan ke masyarakat,” tukasnya.(gun)