35 Saksi Diperiksa, Tersangka Jasindo dan Bank Kalbar Bakal Bertambah

Pontianak, BerkatnewsTV. Kejaksaan Negeri Pontianak telah memeriksa sebanyak 35 orang saksi dalam kasus korupsi asuransi Jasindo dan Bank Kalbar.

“Kasus Jasindo sudah 20 orang saksi yang kita periksa sedangkan kasus Bank Kalbar 15 orang saksi,” ungkap Kasi Pidsus Kejari Pontianak Juliantoro kepada BerkatnewsTV, akhir minggu kemarin.

Bahkan, dipastikan jumlah tersangka bakal bertambah dari kedua kasus itu baik kasus Jasindo maupun Bank Kalbar. “Hasil dari pemeriksaan terhadap semua saksi, kemungkinan besar tersangka bisa bertambah,” ucapnya.

Dalam kasus asuransi Jasindo, Kejari Pontianak telah menetapkan empat orang tersangka yakni DS selaku Kepala Divisi Klaim Asuransi Jasindo Kantor Pusat dan RTW selaku Direktur Teknik dan Luar Negeri Asuransi Jasindo Kantor Pusat.

Kemudian MTB selaku Kepala Cabang PT Asuransi Jasindo Pontianak dan SUP Direktur PT Pelayaran Bintang Arwana Kapuas (PT PBAKA).

Sementara kasus Bank Kalbar, Kejari Pontianak telah menetapkan seorang tersangka berinisial FF.

Juliantoro memastikan dalam kurun waktu dua minggu kedepan, akan menggelar sidang terutama kasus Jasindo. “Saat ini sudah P21. Saya jadwalnya dua minggu lagi sudah tahap 2 kemudian maksimal seminggu dilimpahkan ke pengadilan,” jelasnya.

 

Untuk penahanan keempat tersangka, disebutkan Juliantoro memang ada kewenangan dari jaksa penuntut umum pada saat P21 begitu pula dari pengadilan saat sudah persidangan.

“Jika nanti ada petunjuk (penahanan,red) maka kami sudah antisipasi menyiapkan administrasinya,” ujarnya.

Begitu pula dengan kasus Bank Kalbar, Juliantoro memastikan dalam waktu tidak lama akan digelar persidangan.

“Senin lalu tersangka tidak datang pemeriksaan kejaksaan karena tidak didampingi kuasa hukumnya. Senin tersangka akan kita lakukan pemeriksan lagi, jika tidak didampingi kuasa hukumnya maka Polda akan menunjuknya,” bebernya.

Pimpinan Asuransi Jasindo yang sempat ditahan di Rutan Klas IIA Pontianak namun sehari kemudian dibebaskan. Foto: dok

Diberitakan waktu lalu, pimpinan PT Asuransi Jasindo sempat mendekam di Rutan Klas II A Pontianak hanya sehari, namun kemudian esok harinya dibebaskan.

Kasus korupsi di tubuh Jasindo bermula dari peristiwa tenggelamnya kapal tongkang Labroy 168 yang terjadi pada bulan Oktober 2014 dan baru diajukan klaimnya pada tahun 2016. Pembayaran klaimnya terjadi pada Desember 2018.

Modus operandinya tidak dilakukan verifikasi atas berkas permintaan pencairan klaim tenggelamnya Kapal Tongkang Labroy 168 yang diajukan PT Pelayaran Bintang Kapuas Armada. Sehingga negara dirugikan sebesar kurang lebih Rp 4,7 miliar.

Sedangkan pada kasus Bank Kalbar yakni korupsi bantuan sosial (bansos) yang dikucurkan kepada Dewan Pembina Fakultas Kedokteran.

Dugaan itu mulai terungkap saat pihak Kejaksaan Negeri Pontianak akan mengembalikan uang sebesar Rp1,250 miliar ke rekening Dewan Pembina Fakultas Kedokteran Untan.

Namun, ternyata rekening tersebut telah berganti nama orang lain yakni Indra Saputra yang hingga kini masih misteri. Ironisnya lagi, tiba-tiba rekening itu berganti atas nama Dewan Pembina Fakultas Kedokteran.

Kejari Pontianak pun melakukan pemeriksaan terhadap mantan pimpinan Bank Kalbar Cabang Utama Pontianak. Alhasil ditemukan fakta bahwa adanya penggunaan uang itu oleh oknum di Bank Kalbar.

Kejaksaan juga menemukan lagi bahwa okum tersebut telah mengembalikan uang yang digunakannya ke dalam rekening Dewan Pembina Fakultas Kedokteran.

“Dari situ kami simpulkan bahwa ini bukan murni tindak kriminal biasa tapi adanya indikasi korupsi terhadap uang yang ada di Dewan Pembina Fakultas Kedokteran Untan,” tegas Juliantoro waktu lalu.

Kasus ini merupakan rentetan dari kasus terpidana Zulfadhli mantan Ketua DPRD Kalbar yang telah divonis karena terbukti bersalah melakukan korupsi dana bansos sebesar Rp20 miliar kepada KONI Kalbar dan Dewan Pembina Fakultas Kedokteran Untan.(rob)

Tulis Komentar