Rosmini bersama anak-anak PAUD yang diajarkan tentang nasionalisme. Dulunya anak-anak ini hanya mengenal negeri tetangga ketimbang negeri sendiri Indonesia. Foto; Ist

Sanggau, BerkatnewsTV. Perjuangan membangun dunia pendidikan yang berkarakter kebangsaan NKRI menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi para guru di tapal batas.

Hal inilah yang dirasakan Rosmini, guru PAUD Negeri Pembina di Dusun Semeng Desa Semanget Kecamatan Entikong.

“Anak – Anak PAUD ditempat kami itu dulunya memang lebih mengenal negara sebelah (Malaysia) dibandingkan negaranya sendiri,” kata Rosmini.

Rosmi menyebut alasan mengapa anak – anak di perbatasan lebih mengenal Malaysia daripada negaranya sendiri.

“Keluarga mereka ada yang tinggal disana, mungkin ada yang sudah menikah atau bekerja disana. Mereka belanja disana, karena memang lebih murah dan jaraknya lebih dekat jika harus belanja di Entikong. Kalau anak – anaknya suka nonton film Ipin Upin,” ujarnya.

Akan tetapi, masa sulit membangkitkan rasa nasionalisme itu diakui Rosmi sudah dilewati.

“Itu tantangan yang kami rasakan dua tahun lalu saat sekolah PAUD ini didirikan. Sekarang sudah tidak lagi seperti itu. Di sekolah, kita ajarkan banyak hal tentang nasionalisme,” ungkapnya.

Untuk mencegah lunturnya paham nasionalisme di lingkungan PAUD di wilayah perbatasan, pihak sekolah, tambah Rosmini, melakukan beberapa langkah.

Diantaranya membuat baju seragam yang ada bendera merah putihnya, dan sebelum masuk, anak – anak diminta menyanyikan lagu indonesia raya.

“Kami juga mengajarkan cinta NKRI, dengan memperkenalkan bendera merah putih, siapa kepala negara kita dan lain sebagainya,” pungkasnya. (pek)