Pontianak, BerkatnewsTV. Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan meresmikan Gereja HKBP Distrik XXXIII Kalbar (Distrik 33) di Gereja HKBP Pontianak pada Minggu (14/6/2026).
HKBP Distrik 33 Kalimantan Barat merupakan wilayah administratif pelayanan gereja yang menaungi jemaat HKBP di seluruh wilayah Kalbar dengan pusat pelayanan di Pontianak.
Saat memulai sambutannya, Krisantus mengucapkan salam semua agama termasuk diantaranya ‘Assalamualaikum’
“Batak juga banyak yang muslim,” katanya.
Krisantus sebutkan bahwa Dayak dan Batak beda -beda tipis. “Ketemu di kampung harus hati-hati, karena ada warga dayak yang bernama marga batak dan dia asli dayak bukan batak,” guraunya yang membuat undangan tertawa.
“Dayak itu tidak punya nama, ketika lahir Dayak ketemu orang atau benda, itulah namanya, Pak Senin, Pak Selasa, Pak Sabtu, Pak Basir, Pak Tulis, sampe kotoran pun ada nama Pak Tai,” kata Krisantus membuat hadirin semakin tertawa.
Dikatakannya, ada 24 suku di Kalbar dan umat beragama di Kalbar harus bertolerasi. Di Kalbar, ada Batak Kalbar, Jawa Kalbar, Madura Kalbar, Bugis Kalbar.
“Jadi, apapun sukunya yang ada di Kalbar, tetap Dia orang Kalbar,” tambahnya.
“Dan saya melarang keras di Kalbar suku manapun yang memicu konflik, intolerasi di Kalbar dan Kalbar merupakan provinsi tertinggi tingkat toleransi di Indonesia, karena Kalbar ini miniatur Indonesia,” tegasnya.
Baca Juga:
Disampaikannya, umat beragama yang hendak membangun rumah ibadah silakan tidak ada larangan “Asalkan punya tanah dan dana,” ujarnya.
Menurutnya, persaudaraan yang kuat menjadi modal sosial penting dalam menjaga keharmonisan dan memperkuat kehidupan bermasyarakat.
Jaga Harmonisasi dan Toleransi
Ia tegaskan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen menjaga ruang hidup yang harmonis dan tidak memberikan tempat bagi kelompok maupun organisasi yang berpotensi mengganggu persatuan serta memicu konflik sosial.
“Kalbar sebagai rumah besar bagi masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, budaya, dan adat istiadat membutuhkan peran aktif lembaga keagamaan sebagai perekat sosial sekaligus penjaga harmoni,” pungkasnya.(rob)













