Kubu Raya, BerkatnewsTV. Dalam kurun waktu dua bulan, Kabupaten Kubu Raya setiap harinya tak berhenti dikepung kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Lima kecamatan yang kerap terjadi karhutla antara lain Kecamatan Sui Raya, Rasau Jaya, Sui Ambawang, Kuala Mandor dan Sui Kakap. Khusus di Kecamatan Sui Raya, desa yang tak berhenti terjadi karhutla hingga hari ini seperti Desa Sui Raya Dalam, Desa Arang Limbung dan Desa Limbung. Sedangkan di Kecamatan Rasau Jaya seperti Desa Rasau Jaya Umum dan Desa Rasau Jaya Tiga.
Lahan-lahan tersebut merupakan lahan gambut yang sangat rentan terbakar. Karakter lahan gambut membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit karena bara api masih menyala di bawah permukaan tanah.
“Hari ini kita lihat di Sekunder C ini kebakaran gambut. Cukup luas lahan gambut di sini sehingga pemadam juga kewalahan memadamkannya. Sudah dua hari petugas melakukan pemadaman di lokasi ini,” kata Gubernur Kalbar Ria Norsan saat meninjau di kawasan Sekunder C Kecamatan Rasau Jaya, Rabu (2/9/2026).
Menurut Norsan kawasan Sekunder C merupakan wilayah yang cukup luas dan sebagian besar masih berupa lahan kosong. Berdasarkan informasi petugas di lapangan, api diduga merambat dari kawasan Sekunder B sebelum akhirnya masuk ke area kebun milik masyarakat di Sekunder C.
“Menurut petugas pemadam, api berasal dari Sekunder B dan kemudian merambat ke sini,” katanya.
Baca Juga:
Norsan mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Apalagi di tengah kondisi kemarau, pembakaran lahan berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan dan menimbulkan asap yang berdampak luas terhadap masyarakat.
“Tolonglah, karena kasihan gara-gara membakar lahan, yang korban ribuan orang. Bahaya asap dan lain sebagainya, penerbangan juga nggak bisa karena ini dekat dengan bandara. Itu imbauan saya kepada masyarakat,” harapnya.
Hal yang sama diutarakan Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto bahwa awal kebakaran lahan berada di wilayah Sekunder A merembet ke hingga ke Sekunder C.
“Dan ini lahan masyarakat, yang tidak ada unsur kesengajaannya. Dan ini (Sekunder C) imbas dari Sekunder B,” ungkapnya.
Selain itu, Sukiryanto memprediksi bulan Oktober 2026 akan ada turun hujan dengan harapan asap kabut akibat Karhutla ini lamban laun akan hilang.
“Tetapi untuk saat ini, Bapak Bupati mengimbau kepada dinas agar peduli kepada bencana Karhutla ini menimal menyumbang tenaga,” pesannya.(dian)













