Pontianak, BerkatnewsTV. Sejumlah Harga pangan dan sembako di pasar mengalami kenaikan. Kenaikan akhirnya menjadi pemicu Inflasi year-on-year (y-on-y) Kalimantan Barat pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,65 persen, dengan inflasi tahun kalender (y-to-d) mencapai 2,83 persen.
Kepala Biro Perekonomian Setda Pemprov Kalbar, Harry Ronaldy Mahaputrawan, mengatakan sejumlah komoditas yang menjadi perhatian di Kalimantan Barat antara lain cabai rawit dan daging ayam ras.
Untuk cabai rawit, harga relatif tinggi terjadi di Kabupaten Melawi yang dipengaruhi kondisi kemarau panjang dan fenomena El Niño.
“Di beberapa sentra produksi kita mengalami gagal panen karena kekurangan air dan sebagainya akibat kemarau panjang,” jelasnya usai rakor Penanganan Inflasi bersama Pemerintah Pusat pada Senin (7/9/2026).
Harry menambahkan, pemerintah pusat menetapkan target inflasi sebesar 2,5 persen ± 1 persen. Sementara itu, inflasi Kalimantan Barat secara year-to-date (YTD) telah mencapai 2,83 persen.
“Memang agak sedikit rentan, tetapi kita upayakan dalam sisa empat bulan ini tetap sesuai dengan target 2,5 persen plus minus 1 persen. Kita upayakan tidak melebihi 3,5 persen,” pungkasnya.
Baca Juga:
- Inflasi Kalbar Terkendali, Pertumbuhan Ekonomi Diperkirakan Capai 5,4 Persen
- Kalbar Dapat Rp6 Miliar Atas Penghargaan Kendalikan Inflasi dan Pembiayaan Kreatif
Adapun sejumlah Harga pangan yang mengalami kenaikan atau di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) seperti cabai rawit, daging ayam ras, daging sapi, gula pasir, minyakkita, bawang putih, dan beras.
Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Komjen. Pol. Tomsi Tohir, mengatakan intervensi terhadap kenaikan harga beras perlu dilakukan sedini mungkin karena apabila terlambat, penurunan harga akan membutuhkan waktu yang lebih lama.
“Berkaitan dengan beras, memang harus dicarikan formula supaya naik turunnya tidak terlalu tajam, baik agar tidak merugikan produsen maupun konsumen,” ujarnya.
Untuk komoditas cabai, Tomsi menyampaikan bahwa berbagai intervensi yang dilakukan Kementerian Pertanian, termasuk penambahan jumlah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pemberian subsidi, diharapkan dapat menjaga stabilitas harga cabai dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, terkait minyak goreng, pemerintah terus melakukan berbagai upaya melalui Kementerian Perdagangan. Meski menghadapi tekanan akibat harga crude palm oil (CPO) yang terus meningkat, pemerintah diharapkan dapat menemukan langkah terbaik untuk menjaga harga minyak goreng tetap stabil.
“Berkaitan dengan minyak goreng yang telah dilakukan berbagai upaya oleh Kementerian Perdagangan, walaupun dengan tekanan harga CPO yang terus meningkat, untuk itu terus dicarikan berbagai jalan keluar terbaik agar harga minyak goreng bisa tetap stabil,” pungkasnya.(tmB)













