loading=

254 Titik Api di Kubu Raya

254 Titik Api di Kubu Raya
Tim gabungan penanggulangan Karhutla hingga Jumat, (21/8/26) masih bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain untuk memadamkan api, melakukan penyekatan, serta membasahi lahan yang terbakar. Foto: ist/berkatnewstv

Kubu Raya, BerkatnewsTV. BMKG mendeteksi sebanyak 254 titik api di Kabupaten Kubu Raya per 20 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut tingkat kepercayaan rendah 20 titik, tingkat kepercayaan menengah 226 titik dan tingkat kepercayaan tinggi sebanyak 8 titik.

Sementara untuk Jarak pandang kurang dari 1 kilometer akibat kabut asap. Sementara untuk potensi hujan masih dapat terjadi namun dengan intensitas hujan ringan. Sehingga potensi kemudahan terjadi karhutla masih sangat mudah.

Akibatnya, kualitas udara di Kubu Raya masuk dalam ketagori berbahaya dan tidak sehat karena angka OM telah mencapai 254.1.

Sementara itu, tim gabungan penanggulangan Karhutla hingga Jumat, (21/8/26) masih bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain untuk memadamkan api, melakukan penyekatan, serta membasahi lahan yang terbakar.

Langkah itu dilakukan untuk menahan laju api agar tidak merembet ke area lain maupun mendekati permukiman warga.

Dari sejumlah wilayah tersebut, Kecamatan Sungai Raya menjadi kawasan dengan titik api terbanyak, disusul Kecamatan Sungai Ambawang. Kondisi ini mendapat perhatian lebih karena Bandara Internasional Supadio berada di wilayah Sungai Raya.

Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade mengatakan penanganan Karhutla berlangsung di banyak lokasi dalam waktu bersamaan.

Baca Juga:

“Petugas menangani sedikitnya 94 titik kebakaran yang tersebar di Kecamatan Sungai Raya, Sungai Ambawang, Rasau Jaya dan Kuala Mandor B. Di sejumlah lokasi, masih terlihat kepulan asap setelah proses pemadaman,” kata Aiptu Ade.

Menurut dia, kondisi di lapangan tidak mudah. Petugas harus berhadapan dengan sumber air yang terbatas dan sebagian berada cukup jauh dari lokasi kebakaran. Kondisi cuaca yang panas dan angin kencang juga membuat api lebih mudah bergerak.

Tantangan bertambah karena sebagian titik api berada di lahan gambut yang ditumbuhi semak belukar kering. Api juga muncul di kawasan bekas terbakar sehingga petugas harus memastikan bara di dalam tanah benar-benar padam.

“Beberapa lokasi cukup sulit dijangkau. Sumber air juga jauh. Petugas harus bekerja ekstra untuk melakukan pembasahan agar api dan bara tidak kembali menyala,” ujarnya.

Peralatan di lapangan ikut menjadi persoalan. Keterbatasan panjang selang membuat petugas harus menyesuaikan posisi pemadaman dengan kondisi medan. Mesin pemadam juga dapat mengalami gangguan ketika bekerja dalam kondisi panas dan durasi yang panjang.

Karakter lahan gambut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan menghilangkan api yang terlihat. Petugas perlu melakukan penyiraman dan pendinginan secara berulang untuk memastikan bara di bawah permukaan tidak kembali memicu kebakaran.

Tim gabungan kini memusatkan perhatian pada wilayah yang memiliki konsentrasi titik api tinggi, terutama Sungai Raya dan Sungai Ambawang. Pemadaman dilakukan sekaligus dengan penyekatan untuk membatasi pergerakan api.(tmB)