Pontianak, BerkatnewsTV. Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan menekankan kepada Perwira Siswa Pendidikan Reguler (Dikreg) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) untuk memahami pentingnya isu strategis perbatasan di Kalbar.
Sebab menurut Krisantus, kunjungan ini bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi juga kesempatan memahami karakteristik wilayah, khususnya Kalimantan Barat yang memiliki kawasan perbatasan darat dengan Malaysia.
“Adik-adik datang ke sini untuk memperoleh masukan yang konstruktif dalam menunjang kegiatan pendidikan. Nantinya pengetahuan yang diperoleh dapat diaplikasikan ketika selesai pendidikan, terutama dalam memahami isu-isu daerah dan isu teritorial,” katanya, Rabu (2/9/2026).
Perwira Siswa Seskoal Angkatan ke-66 yang datang ke Kalbar ini berjumlah 112 orang dalam rangka Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN). Mereka terdiri dari 100 perwira menengah TNI Angkatan Laut, empat perwira menengah TNI Angkatan Darat, empat perwira menengah TNI Angkatan Udara, dan empat perwira dari Polri.
KKDN merupakan bagian dari proses pendidikan untuk memberikan gambaran langsung kepada Perwira Siswa mengenai kondisi wilayah, persoalan strategis, serta tantangan yang dihadapi daerah.
Ia menegaskan seorang calon komandan harus memiliki pemahaman luas terhadap wilayah tugasnya, mencakup aspek geografis, sosial, ekonomi, sumber daya alam, keamanan, hingga dinamika masyarakat.
“Sebagai komandan, mesti paham bukan hanya Kalbar, tetapi juga memahami seluruh wilayah Republik Indonesia. Apalagi kalau nantinya ditugaskan di daerah perbatasan, tentu isu-isu yang ada di perbatasan harus dipahami,” ucapnya.
Krisantus menegaskan posisi Kalimantan Barat yang strategis karena berbatasan langsung dengan Malaysia.
“Kalbar ini provinsi yang strategis karena kita berkongsi pulau dengan negara lain. Dari sisi masyarakat sipil kita bisa bersahabat dan bekerja sama. Tetapi dari perspektif pertahanan, kita tetap harus melakukan analisis dan kewaspadaan,” jelasnya.
Baca Juga:
Ia juga mengingatkan bahwa hubungan baik antarbangsa tidak menghilangkan kewaspadaan dalam konteks pertahanan negara.
“Saya tahu di dalam TNI tidak ada konsep negara sahabat dalam sistem pertahanan. Setiap negara tetap melakukan analisis. Karena itu, kewaspadaan tetap harus berjalan,” ujarnya.
Selain persoalan perbatasan, Krisantus juga menyoroti kekayaan sumber daya alam Kalbar seperti emas, batu bara, bauksit, pasir silika, dan tanah jarang.
“Potensi sumber daya alam ini harus menjadi perhatian. Ketika sebuah wilayah memiliki sumber daya yang besar, maka kepentingan terhadap wilayah tersebut juga semakin besar. Ini harus dikelola dengan baik dan dijaga untuk kepentingan masyarakat dan negara,” terangnya.
Terkait karhutla, Krisantus meminta perlu ada analisis yang lebih mendalam dari para siswa. Kenapa kebakaran bisa terjadi terus-menerus dan berpindah-pindah lokasi. Penanganannya bukan hanya memadamkan api, tetapi juga mencari dan mencegah penyebabnya,” pungkasnya.
Sementara itu, Perwira Pendamping Dikreg Seskoal 2026, Kolonel Laut Mardiyanto menyampaikan KKDN Angkatan ke-66 di Pontianak menjadi bagian dari proses pembelajaran strategis bagi para perwira siswa.
Kegiatan ini diharapkan memberikan pemahaman nyata tentang hubungan antara penanganan karhutla, ketahanan wilayah, mobilisasi sumber daya nasional, dan pertahanan negara.
Tentang karhutla, Mardiyanto menyebut tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan lingkungan. Ancaman ini juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, transportasi, logistik, infrastruktur, hingga kesiapan sumber daya yang diperlukan bagi pertahanan negara.
“Karhutla harus dilihat sebagai persoalan strategis. Tidak berhenti hanya pada pemadaman, tetapi juga pencegahan, deteksi dini, respons, pemulihan, perlindungan infrastruktur kritis, dan kesinambungan hubungan pertahanan,” katanya.
Mardiyanto berharap kegiatan KKDN di Pontianak dapat menghasilkan kajian dan rekomendasi yang bermanfaat bagi penguatan ketahanan wilayah. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menghadapi ancaman nonmiliter.(tmB)













