Kubu Raya, BerkatnewsTV. Semangat gotong royong di tengah masyarakat terlihat semakin hari kian merosot. Harus diakui masih banyak warga yang enggan turun gotong royong di setiap gang, komplek, RT atau desa.
Fenomena ini tidak seperti jaman dulu yang selalu terlihat aksi gotong royong pada akhir pekan yang dilakukan oleh warga.
“Kalau kita renungkan bersama, salah satu kekuatan terbesar bangsa Indonesia sejak dahulu adalah semangat gotong royong. Berkat semangat itulah berbagai tantangan dapat kita lalui dan dengan semangat yang sama pula kita membangun masa depan,” kata Gubernur Kalbar Ria Norsan saat Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XXIII dan Puncak Peringatan HKG-PKK ke-54 Tingkat Provinsi Kalbar di Halaman Kantor Bupati Kubu Raya, Rabu (29/7/2026).
Padahal menurut Norsan, di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, gotong royong tidak pernah kehilangan maknanya. Justru hari ini, ketika kehidupan semakin dinamis, maka semakin membutuhkan kepedulian, rasa saling percaya, dan kemauan untuk saling membantu. Sebab membangun daerah bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
“Mari kita mulai dari hal-hal sederhana. Menjaga kerukunan dengan tetangga, peduli terhadap lingkungan, membantu mereka yang membutuhkan, menghargai perbedaan, dan aktif dalam kegiatan masyarakat. Mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan sangat besar bagi kemajuan Kalimantan Barat,” ajaknya.
Ia berharap momentum BBGRM dan HKG PKK tahun ini sebagai penguat tekad untuk terus merawat budaya gotong royong, memperkuat ketahanan keluarga, dan menumbuhkan kepedulian sosial di lingkungan bermasyarakat.
Baca Juga:
- DPRD Paripurnakan HUT ke-19 Kubu Raya, Membangun Dengan Gotong Royong
- 19 Tahun Kubu Raya Hadapi Berbagai Tantangan
Gotong Royong Menyelesaikan Berbagai Persoalan
Sementara itu Bupati Kubu Raya, Sujiwo menilai BBGRM memiliki makna yang sangat mendalam karena menghidupkan kembali semangat gotong royong hingga ke tingkat desa.
“Negara telah mewariskan kepada kita bahwa gotong royong adalah cara yang mulia untuk menyelesaikan persoalan bangsa dan negara,” ujarnya.
Namun, ia menilai makna gotong royong saat ini mulai mengalami pergeseran. Banyak masyarakat yang masih memandang gotong royong hanya sebatas kerja fisik, seperti membersihkan lingkungan atau mengangkat beban bersama.
“Seperti membawa cangkul, membawa arit, membersihkan selokan dan lainnya. Sayangnya, itu hanya sebagian kecil dari makna gotong royong, bukan secara menyeluruh,” jelasnya.
Sujiwo menegaskan, semangat gotong royong juga harus diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan melalui kolaborasi antarlembaga dan perangkat daerah.
Menurutnya, sinergi antara organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk kolaborasi antara bupati dan wakil bupati, merupakan wujud nyata gotong royong yang akan memperkuat kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Gotong royong itu saling menguatkan, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Jangan sampai yang sudah kuat justru dilemahkan karena rasa iri. Itu yang tidak boleh,” tegasnya.(dian)













