loading=

Atasi Pergeseran Nilai Kepahlawanan Lewat Pentas Seni-Mulok

Atasi Pergeseran Nilai Kepahlawanan Lewat Pentas Seni-Mulok
Kepala Disdikbud Kubu Raya, Sy. Muhammad Firdaus

Kubu Raya, BerkatnewsTV. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kubu Raya mengakui adanya pergeseran nilai terhadap perjuangan para pahlawan nasional di kalangan pelajar. Pergeseran ini dinilai dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan pola pikir siswa akibat kemajuan teknologi dan masuknya budaya asing.

Kepala Disdikbud Kubu Raya, Sy. Muhammad Firdaus, mengungkapkan bahwa pada masa lalu para murid memiliki pemahaman yang cukup kuat terhadap sejarah perjuangan bangsa. Bahkan, siswa dengan kemampuan akademik rendah sekalipun masih mampu mengingat nama-nama pahlawan nasional.

“Seiring waktu memang terjadi pergeseran, anak-anak (murid-murid) kita sekarang kurang peduli,” ujarnya usai menghadiri peringatan Hari Kartini di Sungai Raya, Selasa (21/4/2026).

Menurut Firdaus, perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor utama. Penggunaan gawai yang tidak diarahkan untuk kebutuhan belajar membuat siswa lebih banyak mengonsumsi hiburan, termasuk serial drama luar negeri seperti Korea (drakor), yang secara tidak langsung membawa budaya asing.

“Begitu juga masuknya budaya dari luar Eropa, Cina, dan Korea turut mempengaruhi,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Disdikbud Kubu Raya berencana memperkuat muatan lokal dalam kurikulum. Langkah ini diharapkan mampu menumbuhkan kembali pemahaman siswa terhadap sejarah perjuangan pahlawan nasional. Selain itu, pihaknya juga menyiapkan program pentas seni bertema perjuangan yang akan diperankan oleh para siswa.

“Hal ini dilakukan agar tidak menggerus pemahaman anak-anak kita terhadap pahlawan-pahlawan nasional yang ada di Indonesia,” tuturnya.

Baca Juga:

Sementara itu, Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menilai daya tangkap siswa tingkat SMP dan SMA terhadap nama-nama pahlawan nasional masih tergolong rendah. Ia bahkan menceritakan pengalamannya saat mengunjungi desa dan memberikan pertanyaan sederhana kepada siswa.

“Tolong sebutkan tiga nama pahlawan, nanti saya kasih hadiah (amplop) dan hampir tidak menemukan. Kalaupun ada hanya 10 persen, sebagian besar mereka lupa (kurang paham) siapa pahlawan kita,” ungkapnya.

Mengutip pernyataan Soekarno, Sujiwo menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Ia menilai kondisi saat ini menunjukkan adanya pergeseran serius dalam dunia pendidikan.

“Bagaimana kita cinta tanah air kalau kita tidak mengenal para pendiri bangsa ini,” tambahnya.

Sujiwo pun mendorong adanya langkah strategis dari dinas terkait untuk mengevaluasi metode pembelajaran sejarah, termasuk kemungkinan menghidupkan kembali konsep Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) dalam bentuk muatan lokal.

Menurutnya, penanaman nilai cinta tanah air harus dimulai sejak dini, dari jenjang TK, SD, hingga SMP, dengan memperkenalkan tokoh-tokoh pendiri bangsa secara lebih intensif.

“Harus dibekali cinta tanah air dengan mengenal para pendiri bangsa dan lebih penting serta wajib hukumnya untuk mengenal para pahlawan,” pungkasnya. (dian)