Pontianak, BerkatnewsTV. Kalimantan Barat memiliki luasan hutan mangrove 162 ribu hektare yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota. Dan Kabupaten Kubu Raya menjadi wilayah dengan tutupan mangrove terbesar, yaitu hampir 68% dari total provinsi.
Akan tetapi dari jumlah itu, 17 ribu hektare hutan mangrove Kalbar telah terjadi degradasi alias kerusakan dan penurunan kualitas. Akibatnya, dampak yang timbul pada ekosistem pesisir, kehidupan masyarakat, dan perubahan iklim.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan Indonesia saat ini memiliki 3,4 juta hektare yang merupakan lahan mangrove terbesar di dunia, karena di dunia memiliki 17,2 juta hektar dan 3,4 ada di Indonesia.
Namun dalam empat dekade terakhir, Indonesia telah kehilangan lebih dari satu juta hektare mangrove akibat alih fungsi lahan, pembangunan yang tidak terkendali dan abrasi.
“Provinsi Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah terdampak, dengan degradasi lebih dari 17 ribu hektare, termasuk kehilangan 300 hektare daratan di Kabupaten Mempawah,” ungkap Hanif saat rakornas Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Pontianak, Jumat (8/8).
Baca Juga:
- Pesisir Kalbar Rawan Abrasi, Kapolri dan Menteri LHK Tanam Mangrove
- Mulok Gambut dan Mangrove Mulai Uji Coba di Sekolah
Hanif pun mengajak semua elemen termasuk pihak swasta turut serta membantu pemulihan ekosistem mangrove secara berkelanjutan demi anak cucu.
“Maka dari itu mari kita lakukan penanganan mangrove dengan sangat presisi, tidak ada lagi kegiatan – kegiatan yang boleh mengganggu dengan masif mangrove dan ekosistem mangrove yang kita miliki yang hampir berada di seluruh Provinsi Tanah Air kita,” tegasnya.
Gubernur Kalbar, Ria Norsan menyebutkan kekayaan ekosistem mangrove Kalbar sangatlah luar biasa. Di dalamnya terdapat 40 spesies tanaman mangrove berikut hewan yang tinggal.
“Mangrove kita kaya jenis terdapat 40 spesies, termasuk dua yang sangat langka di dunia yakni Bruguiera hainesii dan Kandelia candel. Ini adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Saat ini, masih terdapat lebih dari 14 ribu hektar lahan potensial untuk rehabilitasi mangrove. Ini adalah peluang besar untuk memperkuat ketahanan pesisir, meningkatkan kualitas lingkungan dan membuka ruang bagi ekonomi hijau,” terangnya.
Di balik potensi besar mangrove Kalimantan Barat ada tantangan yang dihadapkan pada area mangrove sering kali beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman, tambak, bahkan pelabuhan. Aktivitas pembangunan wilayah, budidaya ikan dan udang, serta penebangan berlebihan dan illegal logging untuk arang dan kayu bakar, telah menyebabkan kerusakan yang signifikan.
Tantangan lainnya adalah lemahnya kelembagaan dan pengetahuan masyarakat dalam melaksanakan rehabilitasi. Di sisi lain, waktu penanaman mangrove sangat dipengaruhi oleh musim dan cuaca, sehingga perlu perencanaan yang matang, perlu pendekatan kolaboratif-antara pemerintah, aparat penegak hukum, masyarakat dan dunia usaha. Edukasi, penguatan kelembagaan dan penegakan hukum harus berjalan beriringan dengan program rehabilitasi.(rob)













