Detik-detik kemunculan gerhana matahari cincin di Sui Raya namun tidak dapat dilihat secara keseluruhan. Langit berubah menjadi gelap.Foto: Ist

Kubu Raya, BerkatnewsTV. Tepat hari Kamis (26/12) terjadi gerhana matahari cincin. Fenomena alam ini terlihat hampir di sejumlah belahan dunia termasuk Indonesia antara lain di Singkawang Kalimantan Barat.

Berkembang beberapa mitos, cukup membuat bulu merinding tatkala peristiwa langka yang muncul 300 tahun sekali itu.

Antara lain bulan atau matahari ditelan oleh raksasa sehingga membuat langit gelap gulita.

Akibat gerhana matahari langit menjadi gelap maka akan turun embun atau kabut yang mengandung racun membahayakan.

Mitos lain yang berkembang mengakibatkan makanan dan minuman terkontaminasi racun lantaran radiasi yang tinggi dari matahari.

Bagi ibu hamil dilarang untuk melihat gerhana matahari sebab berakibat janin dalam kandungan akan mengalami cacat atau kebutaan.

Mitos yang cukup menakutkan adalah gerhana matahari sebagai pertanda dunia terjadi bencana besar.

Padahal ditegaskan Ustad Ustad Nasutiun Usman gerhana matahari bukan lah tanda kelahiran atau mitos, seperti yang diceritakan saat masih kecil.

“Namun sesungguhnya fenomena ini tanda kekuasaan dan kebesaran Allah dimana tata surya telah diatur oleh Allah. Maka ini juga menjadi pembelajaran kita semua untuk tidak melanggar aturan Allah. Namun jika melanggar kita akan kacau balau,” kata Nasutiun Usman usai salat kusuf di Masjid Al Isra Komplek Kantor Bupati Kubu Raya.

Kejadian ini menurut Nasutiun hendaknya dijadikan peringatan untuk umat agar senantiasa meningkatkan ketakwaan terhadap Allah SWT.

“Maka untuk keteraturan itu kita harus melaksanakan salat dan tetap mengikuti yang telah digariskan oleh Allah. Sebab kita sebagai manusia merupakan miniatur dari alam semesta ini juga,” pungkasnya.

Bahkan Lapan menjadikan fenomena alam ini sebagai sebuah penelitian sains dan ilmu pengetahuan antariksa.

“Fenomena ini adalah siklus peredaran bulan dan matahari,” kata Direktur Utama Lembaga Antariksa Nasional RI ( LAPAN ) Erna Andi Ningsih di Singkawang.

Dan masyarakat kata Erna dapat melihatnya dengan aman tentu dengan menggunakan alat bantu seperti teleskop dan kaca mata khusus yang telah dirancang.

“Peristiwa langka ini justru dapat menjadi magnet wisata bagi masyarakat,” ucapnya.(rob)