Gerakan Wisata Tanam Padi Membangkitkan Peradaban Pangan

Setelah di Desa Parit Keladi Kecamatan Sui Kakap, Gerakan Wisata Tanam Padi Milenial kembali dilakukan di Desa Teluk Empening Kecamatan Terentang. Foto: Ist

Kubu Raya, BerkatnewsTV. Setelah di Desa Parit Keladi Kecamatan Sui Kakap, Gerakan Wisata Tanam Padi Milenial kembali dilakukan di Desa Teluk Empening Kecamatan Terentang pada Sabtu (19/11).

Kegiatan diawali dengan ngopi di sawah yang dilanjutkan Joget Pesona Kubu Raya di atas areal persawahan. Setelah tanam padi, dilakukan penebaran benih ikan nila dan ikan lele sebanyak 35 ribu ekor di kolam sepanjang 270 meter dengan kedalaman 4 meter dan lebar 4 meter. Lokasi kolam berdampingan dengan areal sawah.

Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan mengatakan, gerakan wisata tanam padi merupakan salah satu strategi untuk menjadikan isu pertanian dan ketahanan pangan sebagai bagian sangat penting bagi Kubu Raya dan Kalbar.

“Kenapa kegiatan ini memakai kata gerakan, karena polanya akan menjadi gerakan masif dan tren baru bagi Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program wisata tanam padi menjadi penggerak bagi masyarakat dalam membangkitkan peradaban pangan yang sangat penting dan berharga. Sekaligus cara untuk mengembalikan kejayaan beras lokal Kubu Raya yang sempat hilang dari pasaran selama lima tahun terakhir.

Ia berharap semangat kaum muda Kubu Raya mampu menjadi bagian dalam mengembalikan program beras lokal guna mendukung kemandirian pangan.

“Untuk itu kepada semua birokrasi, masyarakat, pelajar, mahasiswa, dan para pemuda, mudah-mudahan ajang yang luar biasa ini mampu memanfaatkan lahan produktif sehingga menghasilkan sesuatu yang dapat membahagiakan orang banyak,” ajaknya.

Muda Mahendrawan desa atau kampung bukanlah masa lalu justru merupakan masa depan. Sebab, semua hal berasal dari kampung. Mulai peradaban, adat istiadat, budaya, hingga tata krama.

“Semua peradaban yang ada saat ini semuanya dimulai dari kampung. Bagian peradaban sungai, peradaban bercocok tanam, itu semua dimulai dari kampung yang memiliki nilai. Yaitu nilai bergotong royong, kepedulian, keikhlasan, edukasi, integritas, kejujuran, dan dedikasi,” tuturnya.

Peradaban cocok tanam, lanjut Muda, merupakan suatu bentuk dedikasi. Yakni dedikasi kepada sesama manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Karena ini salah satu ruang ibadah kita dengan memperkuat pangan dan sekaligus memberdayakan generasi kita,” sebutnya.(rio)

Tulis Komentar