Hari Aksara Internasional yang dipusatkan di Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya dihadiri langsung perwakilan Kemendikbud, Gubernur Kalbar dan Wabup Kubu Raya. Foto: Ist

Kubu Raya, BerkatnewsTV. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mencatat jumlah penduduk Kalbar yang masih buta aksara sekitar 1,07 persen.

“Secara nasional angka buta huruf di Kalbar tinggal 1,07 persen. Sudah semakin tipis walapun masih di atas rata-rata nasional tapi tipis,” ungkap Perwakilan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Dirjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud RI, Kastum disela memperingati Hari Aksara Internasional ke-54 di Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya, Rabu (31/10).

Menurutnya setiap tahun angka buta aksara di Kalimantan Barat terus menurun. Kalimantan Barat, maju pesat dalam upaya melek aksara.

Hal ini ia sebutkan berbagai upaya semua pihak. Apalagi sejak tahun 2016 Kemendikbud telah mencanangkan enam literasi sebagai upaya menyongsong abad ke-21.

Enam literasi tersebut yakni literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya dan kewargaan.

“Artinya, kalau masyarakat Kalbar semuanya sudah berliterasi, berarti telah siap menyambut abad ke-21,” ujarnya.

Kastum menyatakan pihaknya setiap tahun selalu ikut dalam upaya pemberantasan buta aksara di wilayah Kalbar. Ia memastikan hal itu akan terus berlangsung dengan sinergi bersama seluruh kepala dinas pendidikan.

Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji mengajak semua elemen masyarakat untuk menuntaskan buta aksara. Menurutnya, melek aksara adalah solusi untuk keluar dari kemiskinan.

“Mari kita sama-sama mengakhiri buta aksara. Karena ilmu pengetahuan itulah kunci dari kita keluar dari kemiskinan. Tanpa itu tidak mungkin,” ajaknya.

Disebutkan Sutarmidji di Kalimantan Barat buta aksara untuk usia 18 tahun ke bawah hampir tidak ada. Namun untuk yang 25 tahun ke atas masih ada. Terkait validitas angka buta aksara, dia menyebut data harus diperoleh dengan metode yang benar.

“Jika ambil data buta aksara, tidak bisa mengambil dengan teknik sampling. Harus tatap muka, wawancara dan turun langsung,” tegasnya.(rob)