Sengkolan Pusat, Tradisi Turun-temurun Masyarakat Semaong

Tradisi Sengkolan Pusat yang bermakna bersyukur atas lepasnya tali pusar bayi yang baru lahir dan masyarakat setempat masih melestarikan tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan. Foto: Herry

Sekadau, BerkatnewsTV. Terdapat sebuah tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Semaong Desa Peniti Kecamatan Sekadau Hilir.

Tradisi ini dinamakan Sengkolan Pusat yang bermakna bersyukur atas lepasnya tali pusar bayi yang baru lahir dan masyarakat setempat masih melestarikan tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan.

“Makna Sengkolan Pusat sebenarnya lebih kepada ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas lepasnya tali pusar bayi baru lahir,” ujar Hajijah, salah satu sesepuh di Dusun Semaong.

Setelah dilakukan Sengkolan Pusat, konon katanya orang tua si bayi sudah bisa melepas pantangan, seperti bisa menggunting kuku, menyisir rambut dan ayahnya bisa menyelam.

“Anaknya juga sudah bisa dibawa ke luar rumah,” kata nenek berusia 60 tahun itu.

Dan menariknya, Sengkolan Pusat bayi baru lahir hanya boleh dilakukan oleh para orang tua atau sesepuh yang usianya diatas 50 tahun. Si tukang Sengkolan Pusat berjumlah 4 orang.

Ada pun barang-barang pelengkap tradisi tersebut diantaranya, beras seberat 2,5 kilogram, tapi/sarung satu helai, sebilah pisau dapur, segelas minyak goreng, segelas hula, segelas kopi bubuk, segelas habis, kepala satu biji yang dililit dengan benang dengan 7 lilitan.

“Kemudian uang (seikhlasnya). Nantinya barang-barang ini diberikan kepada bidan kampung. Sebagai tanda jasanya yang sudah membantu merawat si ibu bayi. Lahiran tetap dengan bidan di rumah sakit atau puskesmas atau bidan desa,” papar Hajijah.

Bahkan, hidangan yang disajikan untuk tamu selama prosesi tradisi tersebut berupa nasi ketan ditaburi kepala parut bersama gula merah.

“Makanan tersebut disajikan untuk tamu yang datang,” tukasnya. (her)

Tulis Komentar