Salah seorang penambang sampan sedang membawa penumpang. (Foto : Rizky)

Pontianak, BerkatnewsTV. Sampan, moda transportasi tradisional dan sederhana di Kota Pontianak, terlihat samar di antara kapal feri yang hilir mudik beroperasi di Sungai Kapuas. Di dermaga Pasar Siantan Kecamatan Pontianak Utara misalnya, sampan terlihat terparkir rapi menunggu penumpang. Selang beberapa lama, sampan itu baru terisi penumpang dan siap berlayar mengantar penumpangnya ke daerah Seberang (Kecamatan Pontianak Kota).

Sebenarnya, sampan bukan hal yang sulit untuk ditemui di Pontianak. Namun seiring perkembangan zaman, kini sampan yang terbuat dari kayu dan berukuran kecil ini perlahan mulai ditinggalkan oleh masyarakat setempat. Padahal, keberadaannya sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan memberikan jasa yang sangat penting sebagai alat transportasi untuk tujuan luar Pontianak.

Banyaknya alat penyeberangan seperti kapal feri yang disediakan oleh pemerintah, membuat sampan seolah menjadi sangat langka, mengingat jalur yang digunakan sebatas jalur Sungai Kapuas.

Kapal penyeberangan, sampan, dan speed boat sendiri menjadi salah satu alat penghubung dua kecamatan selain menggunakan jembatan yang juga dapat digunakan masyarakat sekitar.

“Satu orang kalau cuma sekali menyeberang dua ribu. Tapi itu kalau penumpang ramai. Kalau cuma satu orang dan pingin langsung menyeberang tarifnya 30ribu rupiah,” ujar salah seorang penambang sampan, Dadang.

Dadang menambahkan bahwa penambang sampan di zaman sekarang menghadapi tantangan yang begitu besar.

“Banyak tantangannya. Seperti kalau mau beli minyak pun susah, banyak masyarakat yang punya kendaraan sendiri. Ada kapal feri juga, belum lagi sekarang ada ojek online,” tambahnya.

Dadang mengakui bahwa keberadaan kapal feri dan alat transportasi modern lain sedikit-banyak memengaruhi pemasukannya.

“Ada pengaruhnya. Misalnya saja kalau dulu dalam sehari bisa dapat lebih dari 100 ribu rupiah, sekarang mau sampai 100 ribu rupiah pun susah,” jelasnya. (riz)