loading=

Hujan Buatan Turun, Api Muncul Dari Dalam Gambut

Hujan Buatan Turun, Api Muncul Dari Dalam Gambut
Tim Ops Aman Nusa gabungan Polda Kalimantan Barat, Polres Kubu Raya, personel BKO Brimob, BNPB, damkar swasta, dan relawan kembali berjibaku mendinginkan lahan gambut yang terbakar di Kubu Raya. Foto: ist/berkatnewstv

Kubu Raya, BerkatnewsTV. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sukses membuat hujan buatan di langit Kabupaten Kubu Raya. Lahan yang terbakar akibat karhutla langsung padam. Kabut asap pekat pun perlahan mulai berkurang.

Banyak warga yang menyambut gembira turunnya hujan buatan hasil dari OMC lantaran menjadi harapan untuk menghilangkan kabut asap pekat yang telah menutup berbagai daerah hingga masuk dalam rumah.

“Alhamdullilah ada hujan, meskipun hujan buatan tapi paling tidak dapat mengurangi kabut asap,” kata Dedi warga Desa Limbung, Rabu (9/9/2026).

Rasa syukur juga diungkapkan Amidah warga Sungai Raya Dalam yang mengaku sudah tidak tahan dengan kabut asap.

“Semoga hujan buatan bisa tiap hari karena sudah tidak tahan kami dengan kabut asap. Mana lagi air bersih susah. Lengkap penderitaan,” ujarnya.

Namun tampaknya kegembiraan warga tidak berlangsung lama. Sebab hasil dari OMC hujan buatan yang dilakukan pada Selasa (8/9/2026), tidak dapat sepenuhnya membasahi lahan gambut yang terbakar.

Justru api tiba-tiba kembali menyala dan muncul dari dalam gambut. Akibatnya, asap kembali mengepul keluar dari lahan gambut yang sebelumnya terbakar dan sudah dipadamkan. Seperti yang terjadi di Jalan Madusari, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya.

Spontan, Tim Ops Aman Nusa gabungan Polda Kalimantan Barat, Polres Kubu Raya, personel BKO Brimob, BNPB, damkar swasta, dan relawan kembali berjibaku mendinginkan lahan gambut yang terbakar.

Suara nosel yang menyemburkan air bersahutan dengan suara mesin. Petugas membongkar lapisan gambut untuk mencari titik bara yang masih hidup. Air kemudian diarahkan ke dalam tanah agar api tidak kembali menjalar.

“Sudah padam belum?”

“Matikan mesin.”

“Bensin habis.”

“Gulung selang, pindah ke sebelah. Api menyala lagi.”

Baca Juga:

Instruksi-instruksi pendek itu terdengar di tengah kepungan asap. Tak ada panggung, tak ada sorotan. Yang terlihat hanya personel yang berpindah dari satu titik ke titik lain, memastikan bara benar-benar mati.

Sesekali situasi berubah cepat.

“Api mendekat ke permukiman warga!”

Personel pun bergegas menuju titik tersebut untuk mencegah kobaran meluas dan mengancam rumah-rumah warga.

Karakter lahan gambut membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang tampak di permukaan. Bara dapat bertahan di bawah tanah dan sewaktu-waktu kembali muncul ketika kondisi mendukung.

Api dari Gambut Sulit Dipadamkan

Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan dalam bentuk apa pun. Jangan sampai kelalaian atau kesengajaan membuka lahan dengan cara membakar justru menimbulkan kebakaran yang lebih luas dan berdampak kepada masyarakat lainnya,” kata Ade.

Menurut Ade, pencegahan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan petugas ketika api sudah membesar. Kesadaran masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya titik api baru.

“Pencegahan jauh lebih baik daripada harus menanggulangi kebakaran yang sudah meluas. Kami mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan adanya titik api atau aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi menimbulkan karhutla,” ujarnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hingga saat ini masih berada di lapangan membantu penanganan karhutla.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh relawan serta seluruh pihak yang dengan kepedulian dan kerja kerasnya terus hadir di lapangan untuk bersama-sama menanggulangi bencana karhutla di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar,” kata Ade.

Penanganan karhutla di Jalan Madusari kembali memperlihatkan bahwa memadamkan api di lahan gambut bukan pekerjaan sekali datang lalu selesai. Ketika permukaan telah basah, petugas masih harus memastikan bara di bawah tanah benar-benar kehilangan panas.(tmB)