Pontianak, BerkatnewsTV. Tidak dapat dipungkiri, suku Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat memiliki hubungan yang erat dalam perjalanan sejarahnya. Bahkan, Dayak dan Melayu memiliki disebutkan memiliki hubungan satu darah.
Fakta itu dirangkum dalam sebuah buku berjudul Dayak-Melayu: Satu Darah, Dua Dunia yang ditulis melalui berbagai perspektif keilmuan, mulai dari sejarah, antropologi, linguistik, sosiologi, studi agama, politik, sastra, hingga ekologi.
Buku ini ditulis oleh 18 orang penulis, notabene akademisi, tokoh dan sejarawan Kalbar, antara lain Chairil Effendy, Hermansyah, Muriadi Arip, Paulus Ajong, Syafaruddin Usman, Alexander Mering, Albertus Imas, Ahmad Rabi’ul Muzammil, Samsul Hidayat, Dedy Ari Asfar, Urai Muhani, M. Rustam, Sri Sukarni, Gusti Hardiansyah, Syamsul Kurniawan, Jumadi, Syahdin L. Nyarong, dan Stefanus Barlian Soeryamassoeka.
“Sudah lama saya menantikan adanya buku kajian akademis, baik secara sosiologis, antropologis, maupun historis, yang menunjukkan bahwa asal-usul kita memiliki kesamaan. Perbedaan yang ada terkadang lebih disebabkan oleh persepsi dan cara kita melihat identitas masing-masing,” kata Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, saat peluncuran di Rumah Melayu Pontianak pada Rabu (28/10/2026) malam.
Menurut Krisantus buku tersebut penting untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai akar sejarah dan kedekatan budaya Dayak dan Melayu yang terjalin melalui interaksi sosial, bahasa, tradisi, serta nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.
Ia menjelaskan, kedekatan Dayak dan Melayu dapat dilihat dari perjalanan sejarah dan hubungan sosial yang panjang. Perbedaan pola permukiman maupun perkembangan identitas budaya dan agama tidak semestinya menjadi alasan untuk membangun sekat di antara keduanya.
“Kalau kita pelajari sejarahnya, Dayak dan Melayu memiliki kedekatan yang sangat kuat. Dalam perjalanan sejarah, sebagian masyarakat Dayak juga kemudian mengidentifikasi diri sebagai Melayu setelah memeluk agama Islam. Karena itu, pesan ‘Satu Darah’ dalam buku ini sangat relevan untuk mengingatkan kita tentang persaudaraan,” jelasnya.
Baca Juga:
- Jaga Toleransi dan Harmonisasi, 22 Organisasi Etnis Budaya Sampaikan Pernyataan Sikap
- MABM Harus Perkuat Identitas Budaya Melayu
Krisantus menegaskan, buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan akademis, melainkan sarana refleksi untuk memahami identitas bersama dan memperkuat persaudaraan masyarakat Kalimantan Barat. Keberagaman, menurutnya, harus menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan menciptakan jarak.
Menelusuri Akar Sejarah Dayak – Melayu
Buku Dayak-Melayu: Satu Darah, Dua Dunia mengajak pembaca menelusuri akar sejarah hubungan kedua masyarakat, memahami dinamika pembentukan identitas, serta melihat peran kearifan lokal dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman. Pembahasannya mencakup mitologi, ritual, pantun, kuliner, ruang sosial, demokrasi lokal, hingga pelestarian lingkungan sebagai bagian dari kekayaan peradaban Borneo.
“Buku ini bukan hanya sekadar tulisan, melainkan cermin yang memantulkan jati diri kita bersama. Dayak dan Melayu bukanlah dua dunia yang sepenuhnya terpisah, tetapi memiliki ikatan sejarah dan persaudaraan yang kuat. Akarnya sama, ibarat daun pada satu tanaman, bentuknya bisa berbeda, tetapi tetap tumbuh dari akar yang sama,” ungkapnya.
Sebagai putra Dayak, Krisantus memandang karya ini sebagai kontribusi penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat. Ia berharap generasi muda semakin mengenal sejarah dan budaya lokal serta menjadikannya landasan untuk merawat persaudaraan, menjaga lingkungan, dan melestarikan nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Krisantus pun mengajak masyarakat membaca buku tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan, sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober.(rob)













