loading=

Industri Media Massa Hadapi Tekanan, Harus Lebih Berani dan Inovatif

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dyatmika saat pembukaan IDMC 2026 di Surabaya Jawa Timur, Rabu (28/10/2026) mengungkapkan tantangan yang dihadapi industri media massa kedepan
Ketua Umum AMSI, Wahyu Dyatmika saat pembukaan IDMC 2026 di Surabaya Jawa Timur, Rabu (28/10/2026) mengungkapkan tantangan yang dihadapi industri media massa kedepan. Foto: ist/berkatnewstv

Surabaya, BerkatnewsTV. Saat ini industri media massa sedang menghadapi tantangan serius bahkan diambang kehancuran. Tidak sedikit media massa di Indonesia yang mem-PHK karyawannya bahkan lebih parah gulung tikar. Iklan pergi, trafik turun, kontrak kerja sama tidak diperpanjang.

“Model bisnis yang selama ini menghidupi perusahaan media kita sedang runtuh. Bukan retak. Tapi hancur berantakan. Mengapa ini terjadi? Saya melihat ada tiga tekanan,” ungkap Ketua Umum AMSI, Wahyu Dyatmika saat pembukaan IDMC 2026 di Surabaya Jawa Timur, Rabu (28/10/2026).

Pertama, distribusi kita tidak lagi milik kita. Reuters Institute tahun ini mencatat, untuk pertama kalinya, media sosial dan platform video menjadi sumber berita terbesar secara global menjangkau 54 persen audiens. Hampir separuh orang kini mendapat berita dari kreator konten, dan lebih dari seperempat dari kreator yang khusus membahas berita.

“Halaman depan kita sudah digantikan feed. Dan wajah yang dipercaya publik di feed itu sering kali bukan wajah media,” ujarnya.

Kedua, tambah Wahyu mesin pencari berubah menjadi mesin jawaban. AI merangkum karya kita, dan pembaca tidak perlu lagi mengklik. Riset AMSI bersama Monash menemukan dampak negatif yang signifikan terhadap klik setelah hadirnya Google AI Overview pada enam dari 13 media yang diteliti.

“Karya kita diambil. Nilainya dinikmati pihak lain. Biayanya kita yang tanggung,” ucapnya.

Ketiga, dan ini yang paling berat yakni kepercayaan. Menurut Wahyu, kepercayaan terhadap berita kini berada di 37 persen, terendah sejak survei Reuters Institute dimulai pada 2015.

“Pada saat yang sama, kekhawatiran publik terhadap berita palsu naik menjadi 62 persen,” tuturnya.

Ia sebutkan publik makin cemas terhadap informasi palsu, tapi makin tidak percaya kepada media massa yang seharusnya menyediakan obat penawarnya.

“Ini bukan hanya masalah platform. Itu juga masalah kita. Saatnya melakukan refleksi diri,” ajaknya.

Tiga Langkah Jitu

Karena itu tambah CEO Tempo ini, IDMC tahun ini mengambil tema Media Reborn: Reinventing News Media in the Era of AI and Content Creator.

Kata reborn dipilih dengan sengaja. Lahir kembali bukan berarti menghidupkan yang lama nmun berani melepaskan sebagian dari diri kita yang lama, supaya yang esensial bisa bertahan.

“Dari mana kita mulai? Saya mengusulkan tiga langkah. Pertama, mendefinisikan ulang jurnalisme. Bertahun-tahun, banyak dari kita mengukur jurnalisme dengan metriks yang kini tak lagi relevan, berapa berita per hari, berapa pageview, berapa klik. Kita berlomba menjadi yang tercepat mengabarkan hal yang sama,” terangnya.

Tapi di era AI, kecepatan dan volume adalah hal yang paling mudah ditiru mesin. Yang tidak bisa ditiru mesin adalah wartawan yang datang ke lokasi, memverifikasi, menggali dokumen, bertanya, dan menjelaskan konteks. Jurnalisme harus kembali menjadi kerja menemukan dan menguji kebenaran, bukan sekadar memproduksi konten.

Kredibilitas bukan slogan yang harus diulang ulang dalam pidato. Kredibilitas adalah alur kerja yang berintegritas, yang bisa diverifikasi dan diperiksa oleh pihak ketiga

Kedua: mendefinisikan ulang media. Menurut Wahyu, media bukan lagi sekadar situs berita. Media adalah jembatan yang menghubungkan kita, redaksi, wartawan, dengan pembaca, dengan komunitas, dengan klien, dengan pengiklan yang membutuhkan audiens yang percaya.

Conten Creator Bukan Musuh

“Kawan-kawan content creator bukan musuh kita. Mereka membuktikan satu hal, publik ingin mendengar dari manusia yang mereka kenal dan percaya. Maka wartawan kita juga harus berani tampil sebagai creator, hadir di setiap platform, dengan wajah, suara, dan standar jurnalisme yang kita percaya,” jelasnya.

Selain menjadi kreator, kita bisa bermitra dengan kreator, membawa verifikasi dan etika ke dalam ekonomi kreator. Tentu bisnis kita pun tidak boleh bertumpu pada satu kaki. Ada model langganan dan keanggotaan. Acara dan komunitas. Riset dan data. Lisensi arsip dan konten untuk AI. Kekayaan intelektual dari liputan kita.

Ketiga menurut Wahyu adalah yang terpenting yaitu menemukan kembali relevansi untuk audiens kita. Pertanyaannya sederhana, tapi jarang kita tanyakan dengan jujur. Masalah apa dalam hidup pembaca yang kita bantu selesaikan?

“Pembaca tidak hanya butuh diberi tahu apa yang terjadi. Mereka butuh penjelasan. Butuh perspektif. Butuh bantuan untuk mengambil keputusan, soal harga kebutuhan pokok, sekolah anak, banjir di kampungnya, kebijakan pemerintahnya,” tuturnya.

Ia menilai mereka butuh merasa terhubung. Dan hari hari ini, mereka butuh harapan. Media lokal punya keunggulan yang tidak dimiliki AI dan platform mana pun yaitu kedekatan.

“Anda tahu jalan mana yang rusak, sekolah mana yang kekurangan guru, anggaran mana yang tidak sampai ke warga,” ujarnya.

Baca Juga:

Tiga Permintaan

Wahyu pun meminta agar pelaku media massa dapat melakukan tiga langkah untuk menghidupkan medianya.

“Setelah IDMC, pulanglah dengan satu eksperimen, satu produk, atau satu format, atau satu cara baru untuk melayani audiens anda, yang akan anda uji dalam enam bulan ke depan,” imbaunya.

Dua, tambah Wahyu temukan satu mitra di ruangan ini, baik media lain, content kreator, kampus, klien, maupun mitra teknologi, untuk berbagi infrastruktur, berbagi ide, berbagi rencana bisnis, bukan bersaing sendirian.

Tiga, berdirilah bersama dalam advokasi AMSI, karena kita tidak bisa membangun masa depan jurnalisme sendiri – sendiri. Kita harus kompak dan bertindak secara kolektif. Mari samakan frekuensi dan persepsi untuk bergerak bersama sama.

“Sahabat saya di beberapa daerah telah kehilangan medianya. Tugas kita memastikan cerita itu tidak terulang di daerah lain. Media tidak akan lahir kembali dengan sendirinya. Kita yang harus melahirkannya. Dengan jurnalisme yang lebih jujur dan relevan. Dengan bisnis yang lebih berani dan inovatif. Dan kita harus lahir kembali bersama publik, yang menjadi alasan kenapa media dan jurnalisme itu ada,” pungkasnya.(rob)