BerkatnewsTV. Bagaimana jika suatu hari alam tidak lagi bersahabat dengan kita? Pertanyaan ini mungkin terdengar seperti sebuah pertanyaan yang sederhana, bahkan sedikit menakutkan. Namun, ketika kita melihat keadaan lingkungan hidup kita sekarang, pertanyaan itu sesungguhnya bukan lagi sekadar sebuah bayangan tentang masa depan.
Ia adalah sebuah peringatan. Kita menyaksikan hutan yang terbakar, udara yang tercemar, sungai yang kehilangan kejernihannya, tanah yang semakin rusak, serta berbagai bencana ekologis yang terus terjadi. Di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan, termasuk yang terjadi di Kalimantan, memperlihatkan kepada kita sebuah kenyataan yang menyakitkan: ketika manusia merusak alam, yang kehilangan bukan hanya manusia.
Ada burung yang kehilangan sarangnya. Ada orangutan yang kehilangan hutan tempat ia hidup. Ada serangga, reptil, mamalia, tumbuhan, dan berbagai makhluk hidup lainnya yang kehilangan tempat tinggal. Sebagian melarikan diri, sebagian terluka, dan sebagian mati tanpa pernah mendapatkan kesempatan untuk diselamatkan.
Hutan yang bagi manusia mungkin hanya terlihat sebagai hamparan pohon, bagi makhluk lain adalah rumah, sumber kehidupan, tempat mencari makanan, tempat berkembang biak, dan ruang untuk hidup. Maka, ketika hutan terbakar, sesungguhnya bukan hanya pohon yang terbakar. Rumah sedang terbakar. Dan rumah itu bukan hanya milik manusia.
Ketika Alam Mulai Berbicara
Selama ini manusia sering menempatkan dirinya seolah-olah berada di atas alam. Kita mengambil dari alam, menggunakan alam, mengeksploitasi alam, dan memperlakukan alam seolah-olah ia tidak memiliki batas. Kita mengambil kayunya. Kita mengambil tanahnya. Kita mengambil hasil buminya. Kita membuka hutannya. Kita mengubah sungai dan bentang alamnya. Tetapi kita sering lupa bertanya: sampai kapan alam mampu menanggung semuanya?
Alam mempunyai batas. Dan ketika batas itu terus dilampaui, alam akan memberikan responsnya. Banjir, tanah longsor, kekeringan, gelombang panas, kebakaran hutan, krisis air, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai perubahan ekologis lainnya bukan semata-mata sesuatu yang dapat kita lihat sebagai kejadian yang berdiri sendiri.
Banyak di antaranya memiliki hubungan dengan cara manusia memperlakukan bumi.
Karena itu, mungkin kita perlu berhenti bertanya, “Mengapa alam melakukan ini kepada kita?”
Dan mulai bertanya: “Apa yang sudah kita lakukan terhadap alam sehingga keadaan menjadi seperti ini?” Pertanyaan tersebut jauh lebih menyakitkan, tetapi juga jauh lebih jujur.
Ketika Manusia Kehilangan Rasa Hormat kepada Ciptaan
Kebakaran hutan tidak selalu dapat dijelaskan hanya sebagai “bencana alam”. Dalam banyak situasi, tindakan manusia memiliki peran besar dalam memperparah kerusakan lingkungan. Di sinilah persoalan ekologis berubah menjadi persoalan moral. Ketika manusia membakar atau merusak hutan demi keuntungan, ia mungkin berpikir bahwa yang sedang dikorbankan hanyalah pohon atau tanah. Tetapi sesungguhnya ada kehidupan yang ikut dikorbankan. Ada ekosistem yang dihancurkan.
Ada rantai kehidupan yang diputus. Ada generasi yang akan datang yang kehilangan sesuatu yang seharusnya menjadi warisan mereka. Dan ada makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang tidak mempunyai suara untuk membela dirinya sendiri.
Barangkali salah satu masalah terbesar manusia modern adalah keegoisan. Kita sering berpikir: selama kebutuhan saya terpenuhi, semuanya baik-baik saja. Selama saya mendapatkan keuntungan, tidak masalah. Selama saya tidak melihat langsung penderitaan itu, saya merasa tidak perlu peduli.
Namun, bukankah bumi ini bukan hanya untuk kita? Bukankah kehidupan bukan hanya tentang manusia? Bukankah kita hidup dalam sebuah jaringan kehidupan yang saling berhubungan? Ketika satu bagian dari ciptaan terluka, pada akhirnya manusia pun akan merasakan akibatnya.
“Pray for Kalimantan” dan Pertanyaan tentang Tindakan
Ketika bencana terjadi, kita sering melihat berbagai seruan: Pray for Kalimantan. Kita berdoa. Kita bersimpati. Kita membagikan berita. Kita menyampaikan keprihatinan. Semua itu baik. Doa adalah sesuatu yang penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam: Setelah kita berdoa, apa yang kita lakukan? Jangan sampai doa hanya menjadi kata-kata yang muncul ketika bencana sudah terjadi, sementara kehidupan sehari-hari kita tetap tidak berubah. Jangan sampai “Pray for Kalimantan” berhenti sebagai sebuah slogan. Jangan sampai penderitaan alam hanya menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita peduli, sementara setelah perhatian publik menghilang, kita kembali menjalani hidup seperti biasa.
Doa tanpa pertobatan dapat menjadi kosong. Keprihatinan tanpa tindakan dapat menjadi sekadar pencitraan. Dan kecintaan terhadap alam yang hanya berhenti pada kata-kata tidak akan menyelamatkan satu pun hutan.
Karena itu, mungkin yang dibutuhkan bukan hanya “Pray for Kalimantan”, tetapi juga: “Change for Kalimantan.” Berubahlah. Ubahlah cara kita memandang alam. Ubahlah cara kita menggunakan sumber daya. Ubahlah kebiasaan yang merusak lingkungan. Ubahlah cara kita memperlakukan ciptaan. Sebab doa yang sungguh-sungguh seharusnya menggerakkan manusia untuk bertindak.
Alam Bukan Sekadar Sumber Daya
Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah melihat alam hanya berdasarkan manfaatnya. Pohon dinilai berdasarkan kayunya. Tanah dinilai berdasarkan nilai ekonominya. Sungai dinilai berdasarkan potensinya. Hutan dinilai berdasarkan apa yang dapat diambil darinya.
Tetapi Santo Fransiskus dari Assisi mengajarkan sebuah cara pandang yang berbeda. Bagi Fransiskus, ciptaan bukan sekadar benda yang dapat digunakan manusia.
Ciptaan adalah saudara dan saudari yang bersama-sama memuji Sang Pencipta. Ia menyebut matahari sebagai saudara, bulan dan bintang sebagai saudari, angin, air, api, dan bumi sebagai bagian dari keluarga besar ciptaan. Cara pandang seperti ini mengubah hubungan manusia dengan alam.
Jika bumi adalah saudari kita, apakah kita tega menghancurkannya? Jika sungai adalah bagian dari keluarga ciptaan, apakah kita tega meracuninya? Jika hutan adalah rumah bagi saudara-saudari kita yang lain, apakah kita tega membakarnya? Jika hewan juga merupakan ciptaan Tuhan, apakah kita dapat menganggap kematian mereka sebagai sesuatu yang tidak berarti? Spiritualitas Santo Fransiskus mengajak manusia untuk kembali kepada sebuah kesadaran sederhana: kita bukan penguasa mutlak atas ciptaan. Kita adalah bagian dari ciptaan.
Sebagai Katolik dan Pengikut Santo Fransiskus
Sebagai seorang Katolik, terlebih sebagai seorang biarawan Kapusin dan pengikut Santo Fransiskus dari Assisi, penderitaan bumi seharusnya tidak pernah menjadi sesuatu yang jauh dari hati kita. Kita dipanggil untuk melihat ciptaan bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati. Ketika melihat hutan terbakar, kita tidak hanya melihat asap. Kita melihat kehidupan yang sedang terluka.
Ketika melihat seekor orangutan kehilangan habitatnya, kita tidak hanya melihat seekor hewan yang kehilangan tempat tinggal. Kita melihat salah satu ciptaan Tuhan yang sedang menderita. Ketika melihat sungai yang tercemar, kita tidak hanya melihat air yang kotor. Kita melihat sumber kehidupan yang sedang kita rusak. Di situlah pertobatan ekologis menjadi penting.
Pertobatan bukan hanya soal hubungan manusia dengan Tuhan secara pribadi. Pertobatan juga berarti mengubah cara kita memperlakukan ciptaan Tuhan. Tidak mungkin kita berkata mencintai Sang Pencipta tetapi pada saat yang sama terus-menerus menghancurkan karya ciptaan-Nya. Tidak mungkin kita berbicara tentang kasih sambil menutup mata terhadap penderitaan makhluk hidup lainnya. Tidak mungkin kita menyebut diri sebagai pengikut Santo Fransiskus tetapi tidak merasa terluka ketika rumah bersama kita dihancurkan.
Laudato Si: Merawat Rumah Kita Bersama
Gereja Katolik juga telah mengingatkan dunia tentang pentingnya merawat bumi sebagai rumah kita bersama. Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus mengajak manusia untuk melihat persoalan ekologis bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi sebagai persoalan yang berkaitan dengan manusia, masyarakat, ekonomi, moralitas, dan iman.
Kerusakan lingkungan hampir selalu memiliki korban. Dan sering kali korban terbesar adalah mereka yang paling lemah: masyarakat miskin, komunitas lokal, anak-anak, generasi mendatang, serta makhluk-makhluk hidup yang tidak memiliki kuasa untuk mempertahankan habitatnya.
Karena itu, merawat bumi bukan sekadar kegiatan tambahan bagi seorang Kristiani. Ia adalah bagian dari panggilan untuk menghidupi kasih. Kita dipanggil bukan hanya untuk mencintai manusia, tetapi untuk belajar mencintai seluruh ciptaan.
Bagaimana Jika Alam Benar-Benar Tidak Bersahabat?
Lalu kembali kepada pertanyaan awal: Bagaimana jika alam tidak lagi bersahabat? Bagaimana jika hutan semakin sedikit? Bagaimana jika udara yang kita hirup semakin beracun? Bagaimana jika air bersih menjadi sesuatu yang sulit ditemukan? Bagaimana jika suhu bumi semakin ekstrem? Bagaimana jika semakin banyak spesies menghilang? Bagaimana jika suatu hari anak-anak kita bertanya: “Mengapa dulu kalian membiarkan semua ini terjadi?” Apa yang akan kita jawab?
Apakah kita akan berkata: “Kami tidak tahu.” Padahal kita tahu. Apakah kita akan berkata: “Kami tidak melihatnya.” Padahal kita melihat. Apakah kita akan berkata: “Kami tidak bisa berbuat apa-apa.” Padahal sebenarnya kita bisa melakukan sesuatu.
Mungkin alam tidak pernah benar-benar “membalas” manusia dalam arti seperti manusia membalas dendam. Tetapi hukum kehidupan memiliki konsekuensinya sendiri. Ketika hutan dihancurkan, manusia kehilangan perlindungan. Ketika sungai dirusak, manusia kehilangan air. Ketika udara dicemari, manusia kehilangan kesehatan.
Ketika keanekaragaman hayati dihancurkan, manusia juga kehilangan keseimbangan kehidupan. Jadi, yang kita sebut sebagai “alam membalas” mungkin sebenarnya adalah konsekuensi dari apa yang telah kita lakukan sendiri. Alam tidak sedang membalas dendam. Alam sedang menunjukkan kepada kita akibat dari cara kita memperlakukannya.
Jangan Menunggu Bencana untuk Peduli
Kita tidak boleh menunggu hutan terbakar untuk mencintai hutan. Kita tidak boleh menunggu sungai penuh sampah untuk mulai menjaga air. Kita tidak boleh menunggu seekor hewan mati untuk menyadari bahwa ia juga memiliki hak untuk hidup. Kita tidak boleh menunggu bencana untuk menjadi manusia yang peduli.
Kepedulian yang sejati dimulai sebelum kamera datang. Sebelum berita menjadi viral. Sebelum tagar menjadi tren. Sebelum orang-orang mulai berkata, “Pray for…” Kepedulian yang sejati hadir dalam tindakan-tindakan kecil yang sering tidak terlihat: mengurangi sampah, menghemat air, menjaga kebersihan, menanam dan merawat pohon, tidak melakukan pembakaran sembarangan, menggunakan sumber daya secara bijaksana, mendidik generasi muda untuk mencintai lingkungan, dan berani bersuara ketika kepentingan ekonomi mengorbankan kehidupan. Bagi seorang religius, bahkan tindakan sederhana itu dapat menjadi bentuk doa.
Menjadi Saudara bagi Ciptaan
Mungkin inilah panggilan yang paling indah dari spiritualitas Fransiskan: menjadi saudara bagi seluruh ciptaan. Menjadi saudara berarti tidak mengeksploitasi. Menjadi saudara berarti peduli. Menjadi saudara berarti melindungi yang lemah. Menjadi saudara berarti tidak hanya mengambil, tetapi juga memberi.
Menjadi saudara berarti menyadari bahwa kehidupan kita terhubung dengan kehidupan makhluk lainnya.
Santo Fransiskus mengajarkan kepada kita bahwa kesederhanaan bukan berarti hidup kekurangan, melainkan belajar hidup dengan cukup. Dunia mungkin berkata bahwa kita harus memiliki lebih banyak.
Spiritualitas Fransiskan bertanya: “Benarkah kita membutuhkan sebanyak itu?” Mungkin bumi tidak membutuhkan manusia yang semakin kaya. Bumi membutuhkan manusia yang semakin sadar. Bumi membutuhkan manusia yang tahu kapan harus berkata cukup. Bumi membutuhkan manusia yang mampu mengasihi tanpa harus memiliki.
Sebuah refleksi: Sebelum Alam Benar-Benar Tidak Bersahabat
Pada akhirnya, pertanyaan “Bagaimana jika alam tidak bersahabat lagi?” sebenarnya bukan terutama pertanyaan tentang alam. Pertanyaan itu adalah pertanyaan tentang manusia. Tentang siapa kita. Tentang bagaimana kita hidup. Tentang apa yang kita anggap penting. Tentang apakah kita masih mampu merasa sedih ketika makhluk lain menderita. Tentang apakah kita masih mampu melihat bumi sebagai rumah bersama.
Dan bagi kita yang mengikuti Kristus serta berjalan dalam jejak Santo Fransiskus, pertanyaan ini menjadi semakin dalam: Apakah iman kita sungguh mengubah cara kita memperlakukan ciptaan? Kalimantan tidak hanya membutuhkan doa kita. Kalimantan membutuhkan pertobatan kita. Hutan tidak hanya membutuhkan air untuk memadamkan api. Hutan membutuhkan manusia yang berhenti menyalakan api. Hewan tidak hanya membutuhkan belas kasihan setelah kehilangan rumah.
Mereka membutuhkan manusia yang tidak menghancurkan rumah mereka sejak awal. Dan bumi tidak membutuhkan manusia yang hanya menangis ketika kerusakan sudah terjadi. Bumi membutuhkan manusia yang mau berubah. Maka, sebelum kita bertanya apakah alam akan membalas kita, mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu: Sudahkah kita berhenti menyakiti alam? Sebelum kita berkata bahwa alam tidak lagi bersahabat, mungkin kita harus berani mengakui bahwa selama ini kitalah yang terlebih dahulu berhenti menjadi sahabat bagi alam.
Dan mungkin inilah saatnya kita kembali belajar dari Santo Fransiskus dari Assisi: bukan menjadi tuan atas ciptaan, melainkan menjadi saudara dan saudari bagi seluruh ciptaan. Sebab pada akhirnya, bumi bukan milik kita.
Bumi adalah rumah bersama yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Dan rumah yang dipercayakan kepada kita bukan untuk dieksploitasi sampai habis, melainkan untuk dicintai, dirawat, dijaga, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang. Jangan menunggu alam berhenti bersahabat. Mari kita terlebih dahulu belajar menjadi sahabat bagi alam.
Penulis:
Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak
Stephanus Paiman OFMCap













