Sanggau, BerkatnewsTV. Ketua Satgas Percepatan Penanganan MBG Sanggau Susana Herpena mengungkapkan naiknya stunting di Sanggau kemungkinan disebabkan dua hal yakni partisipasi bayi dan balita ke Posyandu berkurang.
“Kita punya 667 Posyandu. Dari jumlah itu, partisipasi kunjungan Bayi dan Balita berkurang jika dibandingkan tahun sebelumnya,” ungkapnya ditemui Selasa (9/6/2026).
Kedua, lanjutnya, pihak SPPG yang selama ini menyasar anak sekolah dan Bumil, Bumifas, dan Ibu Melahirkan (3B) belum memiliki data yang sebenarnya mengenai penerima manfaat.
“Untuk MBG yang menyasar 3B, pihak SPPG tidak pernah minta data ke Dinkes. Itu berdasarkan pengakuan Dinkes. Mereka mengambil data dari Dinsos P3AKB, sehingga tidak sinkron dengan data Ibu Hamil yang dimiliki Dinkes,” ujarnya.
Baca Juga:
Susana juga menyebut bahwa MBG yang menyasar pelajar diklaim mampu menurunkan stunting sangatlah itu tidak tepat.
“Masa stunting itu sudah lewat. Karena fokus stunting itu pada usia seribu hari kehidupan. Fokus MBG untuk anak sekolah itu adalah untuk meningkatkan gizi dan kecerdasannya. Bagi yang perempuan (pelajar putri, red) karena teratur dapat MBG, itu persiapan untuk masa kehamilannya (nanti, red),” terang dia.
Sebelum ada program MBG, tuturnya, Pemerintah telah berupaya menekan angka stunting melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang dilaksanakan secara kolaboratif, di mana pedoman, standar, dan sebagian anggarannya berasal dari pusat (Kementerian Kesehatan) meskipun teknis pelaksanaannya, pengadaan, dan distribusinya dikelola langsung oleh Pemerintah Kabupaten Sanggau melalui Dinas Kesehatan dan jaringannya.
“Mengingat tahun ini APBD kita mengalami efisiensi anggaran sehingga banyak program yang tidak bisa kita laksanakan. Meskipun begitu, kami di Pemerintah daerah tetap berupaya menekan angka stunting ini,” pungkasnya.(pek)













