loading=

Super El Nino Ancam Kematian 19 Ribu Orang Indonesia

Super El Nino Ancam Kematian 19 Ribu Orang Indonesia
Super El Nino mengancam kematian bagi 19.300 orang Indonesia. Hal itu dikarenakan kondisi hari-hari dengan suhu panas ekstrem.

BerkatnewsTV. Super El Nino mengancam kematian bagi 19.300 orang Indonesia. Hal itu dikarenakan kondisi hari-hari dengan suhu panas ekstrem.

Laporan baru dari Climate Impact Lab mengungkapkan kematian di Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Dan suhu panas tambahan diproyeksikan menyebabkan 19.400 kematian di Filipina, Vietnam, Thailand, dan Kamboja.

Sedangkan di India diproyeksikan mengalami tambahan 15.800 kematian, sementara di Amerika Selatan, Brasil menjadi negara yang paling terdampak dengan 13.300 kematian akibat panas yang ditimbulkan oleh El Niño.

“Angka ini merupakan tambahan di luar dampak kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir yang diperkirakan terjadi akibat suhu yang lebih panas serta perubahan pola curah hujan, mengingat El Niño kali ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam catatan sejarah,” demikian dilaporkan Climate Impact Lab yang dikutip, Selasa (29/9/2026).

Kematian akibat panas yang dipicu El Niño ini akan terkonsentrasi secara masif di wilayah Global Selatan. Hanya dalam enam bulan ke depan, laporan tersebut memproyeksikan tambahan 66.800 kematian di wilayah Sahel, Afrika, dengan hampir separuh dari jumlah tersebut terjadi di Nigeria (31.400 jiwa). Di wilayah yang sama, Sudan akan menghadapi tambahan 17.500 kematian akibat panas, Niger sebanyak 10.000, dan Chad 8.000.

Sehingga total di seluruh dunia, fenomena “Super El Niño” tahun ini diperkirakan akan menyebabkan 451.000 kematian.

Angka 451.000 kematian yang diproyeksikan terjadi selama sembilan bulan pertama (Juni-Februari) akibat El Niño saja adalah sekitar 65 kali lipat lebih besar dibandingkan jumlah 6.800 orang yang diperkirakan tewas atau hilang akibat banjir bandang baru-baru ini di Nepal.

“Kita sudah lama mampu memprediksi dampak suhu terhadap tanaman pangan, dan kini kita dapat memprediksi dampaknya terhadap konsekuensi terburuk—yaitu kematian. Hasilnya, kita dapat memperkirakan bahwa 451.000 orang mungkin meninggal dunia dalam beberapa bulan mendatang akibat El Niño. Angka ini begitu besar hingga terasa mencengangkan, namun di baliknya terdapat orang tua dan anak-anak, kakek-nenek dan tetangga, serta orang-orang yang pergi bekerja, mengurus keluarga, dan menjalani kehidupan mereka,” ujar Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab sekaligus Milton Friedman Distinguished Service Professor di bidang Ekonomi Universitas Chicago.

“Laporan ini memungkinkan para pengambil keputusan untuk melihat secara tepat di mana tindakan darurat dapat segera dilakukan guna menyelamatkan puluhan ribu nyawa dalam beberapa bulan ke depan.” tambahnya.

Baca Juga:

Upaya Tanggap Darurat

Mengarahkan upaya tanggap darurat dan ketahanan ke wilayah-wilayah prioritas tinggi ini berpotensi mencegah puluhan ribu kematian.
Adaptation Inventory (Inventarisasi Adaptasi) dari Climate Impact Lab menyediakan basis bukti yang cermat dan diperbarui secara berkala mengenai langkah-langkah adaptasi yang terbukti menyelamatkan nyawa—berdasarkan penelitian yang telah melalui tinjauan sejawat—mulai dari sistem peringatan dini hingga pusat pendingin suhu dan perlindungan bagi pekerja luar ruangan.

Beberapa langkah ini sudah mulai diterapkan untuk melindungi masyarakat dari fenomena El Niño yang berskala luar biasa ini, namun data baru tersebut menegaskan di mana upaya harus diprioritaskan.

Data ini memperjelas bahwa dampak kematian akibat suhu ekstrem harus menjadi inti dari kesiapsiagaan menghadapi El Niño yang efektif, berdampingan dengan upaya ekstensif yang sudah ada untuk memitigasi risiko terhadap ketahanan pangan.

Gambaran Perubahan Iklim 20 Tahun Kedepan

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa fenomena El Niño tahun ini merupakan “gambaran masa depan kita,” yang membawa kondisi suhu yang diproyeksikan akan terjadi akibat perubahan iklim dalam 20 tahun mendatang.

Dengan demikian, fenomena ini memberikan gambaran tentang situasi di masa depan jika tidak ada investasi baru dalam bidang adaptasi. Terkait perencanaan adaptasi jangka panjang ini, terdapat banyak gagasan menjanjikan, termasuk prakiraan suhu yang lebih akurat dan akses yang lebih luas terhadap teknologi pendingin.

Penelitian berkelanjutan dari Climate Impact Lab akan membantu mengidentifikasi langkah apa yang efektif dan apa yang tidak, guna memperluas skala perbaikan di wilayah-wilayah yang paling rentan.

“Meningkatkan respons darurat dan menargetkan upaya kita dengan lebih baik dapat menyelamatkan banyak nyawa tahun ini. Namun, 20 tahun dari sekarang ketika suhu ekstrem saat ini menjadi kenormalan baru—kita tentu tidak ingin terus-menerus berada dalam situasi darurat,” ujar salah satu penulis laporan, Tamma Carleton, Kepala Penelitian Fakultas di Climate Impact Lab sekaligus Asisten Profesor di University of California, Berkeley.

“Kita perlu mengerahkan sumber daya sejak sekarang untuk merancang, menerapkan, serta mengevaluasi berbagai perangkat persiapan dan perencanaan yang akan menyelamatkan nyawa di masa mendatang.”

Seiring dengan perkembangan fenomena El Niño, para peneliti akan memperbarui proyeksi mereka mengenai jumlah kematian tambahan dan memublikasikannya kepada masyarakat umum.(tmB)