Pekerja loading ramp atau loading point sedang mengumpulkan TBS namun dianggap ilegal.
Pekerja loading ramp atau loading point sedang mengumpulkan TBS namun dianggap ilegal. Foto: ist

Sanggau, BerkatnewsTV. Penolakan terhadap loading ramp atau loading point tidak hanya dari perusahaan sawit namun juga dari koperasi sawit yang merasa terancam akan bangkrut.

“Bebasnya loading point ini banyak koperasi yang saat ini bangkrut Karena lahirnya koperasi tujuannya melakukan pembinaan kepada petani,” tegas Perwakilan KUD, Heriyanto disela pertemuan dengan perusahaan sawit, Kamis (10/9).

Sebab menurut Heri, loading ramp atau loading point ini bebas membeli barang kebutuhan perkebunan dengan sistem pembayaran yang langsung.

“Mereka bisa ngambil pupuk, herbisida, sembako bahkan simpan pinjam. Petani bisa ambil di koperasi dan bisa dibayar dengan mencicil. Yang kami alami hari ini, petani ngutang di koperasi tapi menjual TBS nya ke loading point sehingga koperasi dengan sendirinya mati,” ujarnya.

Baca Juga:

Ia sebutkan dari tahun 2016 pihaknya telah minta fasilitasi ke TP5K namun belum direspon.

“Anehnya mereka malah mengundang loading point tanpa mendengarkan aspirasi kami,” kesalnya.

Ia ungkapkan saat sosialisasi Permentan Nomor 1 tahun 2018 dan Pergub Kalbar Nomor 63 tahun 2018 jelas ditegaskan loading point harus ditutup.

“Sebab tidak ada regulasi yang mengatur mereka dan kehadiran mereka bisa merusak tata niaga dan sistem antara petani dengan Koperasi. Jadi kami menolak loading point ini,” tegasnya.(pek)