loading=

Jangan Anggap Enteng. Ruang Perawatan Covid-19 Hanya 10 Bed

rapid tes, ruang perawatan, covid-19, sanggau
Masyarakat yang datang ke rumah sakit di Sanggau. Foto: Ist

Sanggau, BerkatnewsTV. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sanggau, Paolus Hadi mengaku lebih senang menggunakan istilah pola hidup baru (PHB) ketimbang new normal. Untuk menerapkan PHB tersebut, kata dia diperlukan persiapan-persiapan.

“Mengapa. Karena saya khawatir, kita lihat situasi di Sanggau, begitu bicara new normal, orang-orang mulai berpikir seperti biasa. Pergi kemana-mana santai dan tak patuh pada protokol kesehatan,” ujarnya, Selasa (9/6).

PH menceritakan, dulu pada saat awal-awal pandemi COVID-19, masyarakat diminta untuk tinggal di rumah. Saat ini tak ada lagi yang tinggal di rumah, tapi beraktivitas yang produktif. Dan itu harus diatur.

“Tetap dengan protokol kesehatan. Jadi kalau orang buka warung kopi, harus ngerti kalau dia tak bisa seperti dulu lagi. Membiarkan duduk di warungnya tidak ikut aturan. Jarak harus diatur. Orang boleh duduk disitu, tapi siapkan juga alat untuk mencuci tangan. Berikutnya, pastikan tamu datang pakai masker. Yang punya warung harus peduli,” pungkasnya.

Baca Juga:
* Kepatuhan Masyarakat Jalankan Protokol Kesehatan Mulai Kendor
* Anggaran Covid-19 Sanggau Rp95 Miliar

Kekhawatiran lainnya, dikatakan Bupati adalah ketika masyarakat mengganggap tidak ada apa-apa sehingga mengabaikan protokol kesehatan, sementara pandemi ini bisa saja meningkat kasusnya jika kita semua abai akan protokol kesehatan yang ada.

“Hari ini ruang perawatan kita masih kosong. Saya khawatir dengan kita merasa bebas, lalu terkena semua. Kalau 20 orang (kena) kemana meletakkan yang 10-nya. Jadi jangan kalian anggap enteng. Patuhi saja. Tak ada larangan membuka warung kopi atau warung makan,” imbuhnya.

Pemerintah sejak awal-awal diwajibkan menyiapkan mitigasi. Jangan sampai PHB berjalan tanpa kontrol.

“Saya ingatkan, ruang perawatan hanya 10. Jangan nanti ada yang tak bisa dirawat. Kalau dikirim ke daerah lain, belum tentu juga (bisa dirawat). Jangan lalu takut. Marah orang memberitakan. Ini untuk kesehatan kita. Ayo beraktivitas yang produktif, tapi patuhi protokol kesehatan,” tuturnya.

Karenanya ia mengingatkan kembali warung dan tempat-tempat aktivitas perekonomian untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Kalau ada tempat-tempat yang tak memenuhi protokol kesehatan, jangan salahkan petugas. Kita sebagai orang dewasa jangan lagi diingatkan,” tambahnya lagi.

Pun demikian dengan rumah ibadah. PH mengaku tak akan membuat surat edaran dari bupati.

“Tapi mengacu pada SE Menteri Agama. Ikuti saja itu. Saya sudah bicara kepada Kemenag dan tokoh-tokoh agama sudah paham. Bagi pemimpin agama yang sudah melakukan ibadah secara tak langsung, ndak apa-apa. Tapi yang sudah siap, harus mengajukan ke gugus tugas,” bebernya.

Jadi, kata dai tak hanya sebatas menulis surat untuk ibadah. Harus dijelaskan kepada gugus tugas kondisi rumah ibadah tersebut.

“Jadi jangan belum ada apa-apa sudah mulai. Karena sekarang ini baru persiapan. Kalau kuning, barulah kita mempersiapkan. Kalau merah, tidak boleh sama sekali. Ikuti. Jangan anggap remeh,” harapnya. (pek)