Int

Kubu Raya, BerkatnewsTV. Tak lama lagi proses tahun ajaran baru masuk sekolah akan dimulai secara serentak. Namun regulasi baru pun diterbitkan oleh pemerintah pusat Nomor 14 tahun 2018.

Regulasi ini disebut-sebut justru mempersulit sekolah terutama di daerah lantaran diberlakukannya pembatasan rombongan belajar (rombel).

“Aturan baru ini jelas merugikan dan menyusahkan sekolah di daerah. Rombel hanya dipatok harus empat. Kalau mau nambah maksimal dua itu pun harus ijin dinas pendidikan,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubu Raya, Frans Randus ditemui kemarin.

Tak hanya jumlah rombel yang dibatasi, namun juga jumlah siswa yang diterima juga dibatasi. Setiap kelas atau rombel hanya boleh menerima maksimal 28 siswa dari yang sebelumnya 32 siswa.

Menurut Frans, aturan ini akan sangat berdampak pada calon murid, sekolah dan para guru di berbagai daerah termasuk Kubu Raya di semua tingkatan mulai dari SD, SMP dan SMA.

Frans mencontohkan SMP Negeri 1 Sui Raya. Tahun lalu ada sembilan rombel namun harus dikurangi sehingga menjadi empat. Kalau pun menambah maksimal enam rombel berarti masih kurang tiga.

“Nah tentu guru juga akan kelebihan yang nantinya berdampak pada kurangnya jam mengajar para guru. Dampak lainnya juga mempersulit murid untuk mendaftar di sekolah negeri. Apalagi sebelumnya ada aturan zonasi dan jarak yang telah membatasi murid untuk memilih sekolah yang diinginkan,” jelasnya.

Frans katakan memang bisa saja calon murid memilih untuk ke sekolah swasta untuk mengatasinya. Namun tentu saja itu tidak bisa diterapkan ke semua kalangan masyarakat.

“Benar memang mereka bisa ke swasta tapi harus kita ingat kenapa murid memilih ke sekolah negeri juga karena biaya yang relatif lebih murah dari swasta. Belum lagi jika sekolah swastanya jauh, tentu akan keluar biaya yang lebih besar lagi,” ujarnya.

Artinya sambung Frans dengan adanya aturan baru batasan kelas ditambah aturan zonasi bisa saja menyebabkan banyak murid di daerah yang akan putus sekolah.

“Kesimpulan dampak yang terjadi, fasilitas sekolah yang awalnya bisa menampung untuk sembilan kelas jadi berkurang, kemudian jumlah guru bisa menjadi kelebihan jika awalnya rombongan kelasnya banyak. Dan tentunya akan menyebabkan murid sulit untuk masuk sekolah negeri jika di daerah tersebut kelebihan murid sementara jumlah kelas dikurangi,” pungkasnya.(rob)