loading=

Di Ambalau BBM Langka, Harga Capai Rp23 Ribu per Liter. Angkutan Sungai Mogok

Di Ambalau BBM Langka, Harga Capai Rp23 Ribu per Liter. Angkutan Sungai Mogok
Angkutan sungai di Ambalau Kabupaten Sintang terpaksa mogok lantaran BBM yang langka. Dan kalau pun ada harganya melonjak hingga Rp23 ribu per liter. Foto: egi/berkatnewstv

Sintang, BerkatnewsTV. Warga Ambalau di Kabupaten Sintang mengeluhkan kondisi BBM yang langka. Kalau pun ada harganya selangit bisa mencapai Rp23 ribu per liter.

Yosep Obeng, seorang motoris transportasi sungai yang sehari-hari menggantungkan hidup dari angkutan penumpang, mengaku sudah kehabisan akal. BBM jenis pertalite nyaris tak tersedia. Kalaupun ada, harganya melambung tak masuk akal, tembus Rp 23000/liter.

“Minyak sudah beberapa hari kosong. Kalau ada pun mahal sekali. Kami sangat terdampak,” ujar Yosep, Rabu,(8/1).

Ironisnya, di Kecamatan Ambalau sebenarnya berdiri AMPS (SPBU mini terapung) Namun, menurut warga, fasilitas itu seperti bangunan mati. Sudah lima tahun terakhir tak pernah terisi BBM.

“Ada AMPS, tapi tidak pernah diisi. Pertanyaan masyarakat jelas, ke mana jatah BBM itu? Informasi yang kami terima, jatah ada, tapi tidak pernah sampai ke AMPS. Sampai hari ini kosong melompong,” ungkapnya.

Akibatnya, transportasi air urat nadi mobilitas warga Ambalau banyak yang berhenti beroperasi. Speed boat dan tambang tak bisa mengangkut penumpang karena ketiadaan BBM.

Baca Juga:

“Transportasi air banyak yang tidak bisa beroperasi. Penumpang terlantar,” ujarnya.

Situasi kian memprihatinkan karena bertepatan dengan momen tahun ajaran baru. Banyak pelajar yang hendak masuk sekolah ke Sintang maupun Melawi terpaksa tertahan di kampung.

“Ini momen anak sekolah mau masuk. Tapi speed boat dan tambang tidak jalan karena minyak tidak ada. BBM ini paling urgen,” kesalnya.

Keluhan serupa disampaikan motoris lainnya. Demi tetap beroperasi, mereka terpaksa membeli BBM dari Kabupaten Melawi dengan harga tinggi. Biaya operasional membengkak, sementara pendapatan tak sebanding.

“Kami terpaksa beli dari Melawi. Harganya Rp23 ribu per liter. Mau tidak mau, demi antar penumpang,” ujarnya.

Kelangkaan dan mahalnya BBM ini juga memukul sektor darat. Banyak kendaraan terpaksa menganggur. Rantai ekonomi warga ikut tersendat, sementara penumpang terlantar tanpa kepastian.(ebm)