loading=

Pedagang di Perbatasan Entikong Sepi Pembeli dari Malaysia

Pedagang di Perbatasan Entikong Sepi Pembeli dari Malaysia
Aktivitas pedagang di kawasan perbatasan Indonesia – Malaysia, tepatnya di Pasar Baru Batas Entikong, Kabupaten Sanggau semakin lesu. Foto: egi/berkatnewstv

Sanggau, BerkatnewsTV. Aktivitas pedagang di kawasan perbatasan Indonesia – Malaysia, tepatnya di Pasar Baru Batas Entikong, Kabupaten Sanggau semakin lesu.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pedagang yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari lalu lintas warga lintas batas.

Salah satunya Pina, pedagang pakaian yang telah kurang lebih 20 tahun berjualan mengatakan, penurunan jumlah pembeli terjadi sejak aturan keluar masuk warga Malaysia ke Indonesia diperketat dan mewajibkan penggunaan paspor.

“Kurang lebih sudah 20 tahun saya berjualan di sini. Dulu ramai sekali, sekarang sangat sepi,” ujarnya.

Ia menjual berbagai jenis pakaian dan aksesoris khas daerah perbatasan dan Borneo, mulai dari pakaian Sarawak, pakaian khas Borneo, hingga produk daerah lainnya.

“Pakaian macam-macam. Dari pakaian Sarawak ada, Borneo ada, khas-khas daerah Borneo ada. Pokoknya lengkap dari ujung kaki sampai ujung rambut,” katanya.

Dari sisi harga, para pedagang mengaku tidak mematok harga mahal. Pakaian kaos dijual dengan harga terjangkau, begitu pula dengan tas-tas khas daerah.

“Kalau baju-baju kaos seperti ini paling Rp50 ribuan kita jual. Tas-tas daerah yang kecil-kecil juga Rp50 ribuan. Tidak mahal saya rasa,” jelasnya.

Namun, murahnya harga tidak berbanding lurus dengan jumlah pembeli. Minimnya pengunjung membuat para pedagang kerap tidak mendapatkan satu pun penjualan dalam waktu lama.

“Tapi karena pengunjungnya tidak ada di sini. Kadang semingguan kita tidak ada pelaris,” ungkapnya.

Baca Juga:

Menurutnya, penyebab utama sepinya pasar adalah kewajiban paspor bagi warga Malaysia yang ingin berbelanja ke Entikong. Padahal sebelumnya, warga Malaysia dapat masuk hanya untuk berbelanja tanpa paspor dan bisa langsung memarkir kendaraan di depan toko.

“Kalau dulu kan tidak pakai paspor. Mereka bisa parkir mobil sampai ke depan toko kita. Makanya kita ada terus pelaris, dan nyaman sekali seperti dulu,” ujarnya.

Kini, aturan tersebut membuat warga Malaysia enggan datang karena khawatir kendaraan mereka ditahan jika tidak membawa paspor.

“Kalau tidak pakai paspor mereka akan ditahan. Mereka tidak mau kalau AC-nya ditahan. Itu yang mereka keberatan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa aturan paspor tersebut berlaku khusus untuk kawasan perbatasan, termasuk Pasar Baru Batas Entikong.

“Untuk belanja ke Indonesia, khususnya Entikong ini, Pasar Baru Batas harus pakai paspor. Kalau tidak, AC-nya ditahan di situ,” jelasnya.

Kondisi ini membuat pedagang lokal semakin terhimpit. Pasar perbatasan yang bergantung pada pembeli lintas negara tidak memiliki basis konsumen lokal yang besar.

“Sementara kita di sini kan kampungnya tidak ada. Ruang lingkungan di sini kecil. Kita hanya menunggu dari seberang,” katanya.

Hingga kini, para pedagang mengaku belum melihat adanya kebijakan atau solusi konkret untuk memulihkan aktivitas ekonomi di kawasan perbatasan.

“Sepertinya sampai sekarang belum ada tanggapan apa-apa. Nyatanya kita di sini masih seperti ini saja,” tuturnya.(ebm)