BerkatnewsTV. Gunung Everest, puncak tertinggi di dunia, selalu menjadi daya tarik bagi para pendaki dan peneliti. Namun, di balik keindahan dan kejayaannya, gunung ini juga menyimpan ancaman besar berupa badai salju ekstrem. Fenomena alam tersebut sering muncul secara tiba-tiba, membawa suhu yang sangat rendah, serta angin kencang yang mampu mengubah ekspedisi menjadi perjuangan hidup dan mati.
Kondisi Iklim di Gunung Everest
Pertama, Gunung Everest terletak di kawasan Pegunungan Himalaya, tepat di perbatasan Nepal dan Tibet. Wilayah ini memiliki iklim pegunungan ekstrem dengan suhu yang bisa turun hingga -60°C pada musim dingin. Selain itu, ketinggian yang mencapai 8.848 meter di atas permukaan laut membuat udara sangat tipis dan kadar oksigen menurun drastis.
Karena kondisi tersebut, atmosfer di sekitar puncak gunung menjadi tidak stabil. Perubahan tekanan udara dan pergerakan massa udara dingin dari Tibet sering memicu pembentukan awan tebal. Akibatnya, badai salju dapat muncul kapan saja tanpa peringatan jelas. Oleh sebab itu, para pendaki wajib memahami pola cuaca sebelum melakukan pendakian.
Proses Terjadinya Badai Salju
Badai salju di Gunung Everest terbentuk ketika udara lembap dari lembah naik ke puncak dan bertemu dengan udara dingin dari lapisan atas atmosfer. Pertemuan kedua massa udara itu menimbulkan kondensasi, lalu menghasilkan awan cumulonimbus yang membawa salju tebal.
Selanjutnya, ketika angin bertiup dengan kecepatan tinggi bahkan bisa mencapai 200 kilometer per jam, butiran salju berputar dengan kekuatan besar dan menimbulkan badai. Dalam kondisi ini, jarak pandang menurun drastis, sementara suhu tubuh pendaki dapat turun secara cepat. Tanpa perlengkapan yang memadai, risiko hipotermia meningkat dalam hitungan menit.
Dampak Badai Salju bagi Pendaki
Selain menurunkan suhu ekstrem, badai salju juga menciptakan ancaman tambahan berupa longsoran salju (avalanche). Lapisan salju yang tidak stabil dapat bergeser karena getaran angin atau langkah manusia. Oleh karena itu, para pendaki harus selalu memperhatikan kondisi medan dan menghindari area dengan lapisan salju tebal.
Tidak hanya itu, badai salju dapat memutus jalur komunikasi dan menyulitkan proses evakuasi. Banyak ekspedisi gagal mencapai puncak karena badai datang secara mendadak. Bahkan, beberapa pendaki harus menunda perjalanan selama berhari-hari di kamp pendakian tinggi demi menunggu cuaca kembali tenang.
Strategi Menghadapi Badai Salju
Untuk menghadapi cuaca ekstrem di Everest, setiap tim pendaki perlu melakukan perencanaan matang. Pertama, mereka harus memantau prakiraan cuaca dari lembaga meteorologi setempat. Selain itu, penggunaan perlengkapan khusus seperti pakaian termal, tenda tahan angin dan masker oksigen menjadi hal yang wajib.
Selain faktor perlengkapan, kerja sama tim juga berperan penting. Selama badai berlangsung, komunikasi dan koordinasi harus tetap terjaga agar semua anggota tim berada dalam kondisi aman. Dengan demikian, risiko kehilangan arah atau terjebak dapat diminimalkan.
Keindahan di Balik Bahaya
Meskipun badai salju menakutkan, fenomena ini juga memperlihatkan sisi luar biasa dari kekuatan alam. Setelah badai reda, langit di atas Everest sering tampak sangat jernih, sementara sinar matahari memantul di atas hamparan es dan salju, menciptakan pemandangan yang luar biasa indah. Kontras antara bahaya dan keindahan inilah yang membuat Gunung Everest tetap memikat hati banyak orang.
Secara keseluruhan, badai salju di Gunung Everest menggambarkan keseimbangan antara keindahan dan kekuatan alam. Fenomena ini mengingatkan bahwa gunung tertinggi di dunia bukan hanya tempat pencapaian manusia, tetapi juga simbol dari ketangguhan dan kehati-hatian. Karena itu, setiap pendaki yang menatap puncak Everest sebaiknya tidak hanya membawa semangat menaklukkan alam, tetapi juga rasa hormat terhadap kekuatan luar biasa yang dimilikinya.













