Sintang, BerkatnewsTV. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) melakukan Operasi Pasar (OP) di Kabupaten Sintang untuk menekan laju inflasi Sintang yang telah mencapai 7,4 persen seperti diumumkan Presiden RI Joko Widodo.
Operasi pasar sembako digelar selama dua hari di tempat berbeda. Pada Jumat (16/9) pagi dipusatkan di Pasar Masuka dan Sabtu (17/9) digelar di bilangan Pasar Inpres.
Dari OP tersebut ditargetkan inflasi Sintang bisa dibawah angka rata-rata nasional yakni 4 persen.
“Saat ini kita gelar operasi pasar di Sintang, sebenarnya sebelumnya itu sudah dimulai dengan kegiatan gelar pangan murah di Sintang, Melawi dan Sekadau, langsung oleh Pak Gubernur. Hari ini kita lanjut dalam rangka gerakan pengendalian inflasi, sinergi bersama bulog, perusda perusahaan, dan agen menyediakan komoditi kebutuhan pokok masyarakat, seperti beras, minyak goreng, telur, bawang merah, daging dan lain-lain,” kata Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag Provinsi Kalbar, Yusuf, Jumat (16/9).
Dia berharap, melalui OP ini dapat menurunkan angka inflasi di Sintang menjadi 4 persen, di bawah rata-rata nasional.
Dengan demikian diharapkan masyarakat Sintang jangan panik dengan inflasi yang tinggi. Pemerintah memastikan stok sembako aman dan terjangkau.
“Kami tadi monitoring di belakang ternyata komoditi sayur mayur seperti timun, kacang panjang buncis, sawi hujau ini tersedia, tinggal bagaimana informasi kita efektif. Barangnya tersedia di Sintang cukup banyak. Sehingga memang data yang disajikan nanti yang sekarang angkanya 7, insya allah kedepan bisa ditekan sampai angka 4,” katanya.
Baca Juga:
- ASN Sintang Diwajibkan Tanam Cabe dan Sayur Tekan Inflasi
- Lima Komoditi Ini Pemicu Inflasi Sintang Tinggi
Sementara Wakil Bupati Sintang, Melkianus mengatakan bahwa sebenarnya komoditas lokal seperti cabai pasokannya cukup. Tetapi harganya tinggi di pasaran karena rusaknya infrastruktur.
“Sebenarnya komoditas di tempat kita tidak kurang, cabai memang banyak, harga di tempat murah Rp40 ribu per kilo tetapi jalan parah sehingga diambil ke pihak ketiga jadi Rp100 ribu perkilonya. Intinya komoditas ada, hanya infrastruktur kurang mendukung,” tuturnya.
Melkianus menjelaskan, indeks harga konsumen pada bulan Agustus 2022, terjadi deflasi sebesar 0,96 persen. Lalu, Desember 2021-Agustus 2022 terjadi inflasi sebesar 4,52 persen di bawah rata-rata nasional.
“Agustus 2021-Agustus 2022, terjadi inflasi sebesar 7,39 persen. Ini sebenarnya adalah perbandingan dari tahun ke tahun, maka angkanya tinggi. Angka tertinggi bulan November 2021, karena memang waktu itu kita terjadi banjir sangat besar sehingga terjadilah kenaikan harga,” ujar Melkianus.(anty)