Diskusi tentang radikalisme dengan menghadirkan narasumber Kapolres, Staf Ahli Bupati Pemkab Sanggau dan Akademisi IAIN Pontianak. Foto: Ist

Sanggau, BerkatnewsTV. Staf Ahli Bupati Sanggau, Rizma Aminin menegaskan pemerintah telah berupaya mencegah termasuk bagi internal pemerintahan, misalnya para ASN yang terpapar radikalisme.

“Permasalahan ini kan sudah masuk ke semua lini. Sehingga butuh usaha bersama. Pemerintah sendiri juga tidak akan bisa menyelesaikannya. Paling penting adalah bagaimana pencegahan dapat dilakukan oleh semua pihak dan di semua lini kehidupan,” tegasnya saat diskusi tentang radikalisme, Kamis (16/1).

Sementara itu, akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Eka Hendry AR mengatakan secara kajian akademik persoalan radikalisme memang kerap dilakukan.

Bahkan, dalam beberapa referensi akademis tidak terdapat korelasi yang secara khusus bersinggungan antara radikalisme dan agama. Meskipun dari beberapa literatur agama, istilah radikal biasa dilakukan.

“Secara historis, bila menelisik Britania Raya, istilah radikal telah digunakan. Begitu juga di abad 18, ketika revolusi Perancis terjadi. Tetapi, historis ini mengacu pada persoalan sosio-politik dan tidak bersinggungan dengan agama,” ungkapnya.

Belakangan, persoalan ini mengalami peluasan stigma sehingga seolah-olah ada kaitannya dengan agama tertentu. Padahal, lanjut dia, bila memahaminya secara seksama, dalam konteks yang murni, tidak benar adanya, apalagi dikaitkan dengan agama tertentu.

“Ini masalahnya. Perluasan polemiknya, sudah mengarah pada konteks-konteks yang sebenarnya tidak ada historisnya. Oleh karena itu, memang harus dilihat dalam konteks hulu dan hilir. Saat ini, tidak bisa hanya menunggu di hilir, tetapi harus melihat hulunya,” jelas dia.(pek)