Bergerak dari Desa Menuju 0 Kekerasan

Bergerak dari desa menuju zero kekerasan, one day one Voice (ODOV). Tema yang diusung "BERSAMAKITAKUAT#, yang dipusatkan di aula Kantor Desa Parit Baru Kubu Raya. Foto: Wati

Kubu Raya, BerkatnewsTV. Kekerasan yang menimpa perempuan dan anak dalam trend-nya selalu meningkat. Baik data pemerintah dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Komnas Perempuan maupun Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak menujukkan kenaikan tersebut.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah, lembaga negara, komunitas hingga swasta pun terlibat keroyokan membantu bagaimana menyelesaikan atau setidaknya meminimalisir angka-angka merah tersebut.

Kalbar dengan 14 kabupaten kotanya memiliki kata yang sama dalam memberangus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dengan suport penuh lembaga swadaya masyarakat dan pihak ketiga sebagai bentuk dukungan dan aksi nyata.

Dimulai dari gagasan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) dan Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM), dukungan penuh JASS hingga Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) dengan membuat langkah 16 hari anti kekerasan.

Bergerak dari desa menuju zero kekerasan, one day one Voice (ODOV). Tema yang diusung “BERSAMAKITAKUAT#, yang dipusatkan di aula Kantor Desa Parit Baru Kubu Raya, Minggu (30/11).

Ketua PPSW Borneo, Reni Hidjazie, mengungkapkan, tujuan kegiatan ini ingin menyampaikan kepada publik untuk bersama-sama merespon, mencegah, serta meminimkan angka kekerasan yang terjadi, terutama di lingkungan dan wilayah masing-masing, sehingga tercapai tujuan kehidupan yang lebih damai, adil dan sejahtera.

Menurut Reni, hal ini adalah bagian dari kampanye antikekerasan terhadap perempuan dan menegaskan bahwa pihaknya menolak berbagai bentuk kekerasan perempuan dan anak.

Mengapa di desa?

Desa kata Reni memegang peranan penting dalam tataran pencegahan kekerasan.

“Banyak alasan kenapa kita di memulainya dari desa. Mulai dari desa banyak kasus yang terjadi. Ini juga menjadi titik dan gong bagi desa guna mempercepat respon perlindungan serta penanganan lebih cepat,” paparnya.

Serentak bergerak

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan menegeskan tidak akan berkompromi akan tindakan kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak.

“Kita harus bergerak, dan jangan tanggung-tanggung, kita besarkan kegiatan ini agar bisa menjadi isu nasional dan itu dimulai disini, di desa Kubu Raya,” paparnya.

Bicara kekerasan perempuan harus dilakukan menyeluruh, serentak. Jika tidak dilakukan masif, maka akan sulit.

“Desember ini kita turun ke jalan, getarkan semua untuk menyadarkan secara kolektif. Kita akan kepung dengan isu ni, jangan hanya parsial. Dinas tidak akan mampu maka perlu berbagai pihak untuk memaksimalkan isu ini.

Kita kembalikan posisi warga sebagai penyampai informasi terdepan, begitu pun jika menyangkut kekerasan perempuan dan anak. Dari desa kita bergerak, menuju nol kekerasan,” ujarnya penuh semangat yang diaminkan para peserta yang kebanyakan pegiat perempuan.

Saatnya stop kekerasan

Sementara Ketua JPK, Aseanty Pahleavi, menekankan pentingnya gema lintas sektoral agar kampanye ini bisa jauh efektif hasilnya.

“Jurnalis perempuan mendukung penuh karena kita adalah bagian penggerak perubahan untuk berani berkata stop kekerasan dan bentuk ancaman lainnya,” katanya. (wti)

Tulis Komentar