Sanggau, BerkatnewsTV. Bupati Sanggau, Paolus Hadi memberikan tenggat waktu tiga bulan kepada Direktur PDAM Tirta Pancur Aji yang baru untuk melakukan evaluasi internal terkait kondisi perusahaan daerah tersebut.
Penegasan itu disampaikan Bupati saat melantik Yohanes Andriyus Wijaya sebagai direktur PDAM Trita Pancur Aji masa jabatan 2018-2023.
“Evaluasi tiga bulan, nanti lapor kepada saya. Apa yang terjadi di PDAM. Termasuk relasi-relasi, dimana PDAM berlangganan, ada utang ndak? dan seterusnya,” kata Bupati di Aula Lantai I Kantor Bupati Sanggau, Selasa (29/1) pagi.
Kondisi PDAM saat ini diyakini oleh PH sapaan akrab Bupati diketahui seluruh karyawan. Untuk itu, PH Ingin mendengar langsung dari karyawan PDAM.
Ia pun melontarkan pertanyaan terkait kondisi PDAM kepada karyawan yang menghadiri pelantikan Direktur baru.
“Kalian sudah tahu, penilaiannya seperti apa. Kondisi PDAM lima tahun terakhir ini masih dalam apa? Sehat atau sakit?,” tanya Bupati.
Dengan kompak para karyawan PDAM yang hadir hadir bilang “sakit”.
Kondisi ini, kata Bupati, adalah tantangan besar bagi direktur yang baru untuk menjadikan PDAM sehat.
“Kemarin direktur sudah diseleksi dan saudara terpilih karena pertimbangan-pertimbangan dari pansel tentunya, termasuk pemahaman saudara terhadap kondisi PDAM. Saya harapkan sebagaimana tugas yang disampaikan tadi, segera perbaiki. Ini perusahaan, sederhananya, kalau yang namanya perusahaan itu lebih bermartabat dibanding dengan usaha kecil menengah,” ulasnya.
Namun demikian, Bupati meminta direktur yang baru dilantik untuk cek langsung ke kantornya, apakah bermartabat sebagai sebuah perusahaan.
“Kalah dengan kantor UMKM. Mudah-mudahan nanti mejanya rapi dan sebagainya, saya tidak ngomong air ngalir atau tidak,” pungkasnya.
PH mengingatkan, untuk membuat sebuah kepercayaan itu memang dari dalam. Untuk itu, ia menekankan agar tugas pertama yang harus dilakukan direktur baru adalah melakukan evaluasi terhadap peraturan direksi.
Jangan bertentangan dengan kewenangan yang harusnya disetujui bupati. Termasuk aset-aset, termasuklah keberadaan karyawan.
“Silahkan saudara (direktur) mengaturnya, supaya hasilnya ada. Jangan biarkan orang yang tidak sesuai keahliannya saudara tempat kan di situ. Dimana hak dia, dimana dia sudah mendapat gaji pokok, dimana hak nantinya dia bisa mendapat yang lain. Janganlah udah gaji pokoknya dapat, di hari yang sama, di jam yang sama dia juga mendapat hak yang lain. Tolong, saya mendengar itu,” pinta Bupati.
Sehingga, lanjut PH, bukannya fokus bagaimana memaksimalkan pelayanan terhadap pelanggan, tapi dipusingkan dengan mengatur kewenangan di dalam.
“Ketika saya memanggil saudara dengan dua calon lainnya, yang saya tanyakan pertama berani kah saudara melakukan perubahan besar di internal PDAM? Saya masih ingat jawaban saudara bilang berani,” cerita PH.
Kemudian, disampaikan Bupati, penghasilan masih ada yang bocor, belum lagi soal kualitas dan distribusi air bersih yang banyak mendapat keluhan dari masyarakat. Untuk itu, PH meminta direktur bersama karyawannya memonitor air selama 24 jam.
“Dua tahun, sudah ada perubahan. Tolong karyawannya bantu, jangan gaya lama dipakai terus. Jangan terkesan kalian tidak bisa diberhentikan, benarkah? Ndaklah, pegawai saja sekarang banyak yang diberhentikan, jangan merasa kalian tidak bisa dibuat apa-apa. Seperti mau kerja baik kah, mau tidak kah, tetap aman,” katanya.
Meski demikian, Bupati juga mengapresiasi perkembangan – perkembangan yang sudah ada di tubuh PDAM, meski belum seperti komitmen yang sudah dibuat.
“Untuk itulah, Jadikan performa PDAM ini baik, kerjanya ditingkatkan lagi. Jangan berdebat dengan saya soal harga kalau kualitas belum bisa diperkuat. Jangan bilang harga jual kita rendah, tetapi pelayanan kita Senin Kamis. Karena itu yang selalu diperdebatkan dengan saya. Tapi saya bilang perbaiki pelayanan, baru kita bisa bilang dengan pelanggan, kami mau naikkan harga,” pungkasnya lagi.
Kepada OPD terkait, terutama Cipta karya dan Bina Marga, Bupati meminta untuk membantu PDAM, terutama yang berkaitan dengan infrastrukturnya. Dan kepada direktur yang baru ia tidak mau hanya pandai di dalam, dan tidak berani keluar.
“Berkoordinasi dengan OPD sampai ke tingkat camat, direktur bukan duduk di kursi empuknya, harus jalan, terus berkoordinasi di dalam maupun di luar. Tapi saya tidak mau dengar direktur mau keluar, lupa ke dalam. Karena saya bupati sudah memberi contoh, saya jarang di luar, banyak ke dalam, walaupun kadang-kadang contoh itu tidak disenangi. Karena dianggap perjalanan dinas menghasilkan uang tambahan,” tutur PH.
Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Pancur Aji Kabupaten Sanggau, Yohanes Andriyus Wijaya menyampaikan langkah pertama yang akan ia lakukan pasca dilantik adalah mengevaluasi kinerja masing-masing karyawan.
“Saya ingin tahu apakah karyawan tahu job description-nya? Artinya apa yang harus dia kerjakan. Setelah itu kita akan melakukan meeting kembali, melakukan evaluasi laporan keuangan. Kemudian seperti yang Pak Bupati inginkan bahwa kantor harus ada perubahan, pembenahan lingkungan kantor,” katanya.
Menurut Andre, demikian ia disapa, yang paling penting adalah menekan kebocoran air, baik yang disebabkan karena pipa bocor maupun karena pencurian air.
“Kami akan mengecek kobocoran air. Nah, kalau bisa kita atasi masalah ini, saya yakin PDAM kita bisa meningkat menjadi sehat,” tegasnya.
Tingkat kebocoran air, masih kata Andre, idealnya 20 persen, sementara tingkat kebocoran PDAM Sanggau saat ini ada di angka 40 persen.
“Cuma kita mau cek kebocoran air ini dimana, apakah ada pencurian air atau pipa bocor,” imbuhnya.
Andre menambahkan, berdasarkan data dari 2012 sampai 2017, PDAM Sanggau masih dalam keadaan “sakit”. Untuk itu ia meminta dukungan dari masyarakat Sanggau agar PDAM kembali menjadi sehat. (dra)













